05 August 2012

Patarsono

Cara Mengukur Jarak Keliling Bumi Oleh Erathostenes

Erastosthenes mengembangkan metode pengukuran keliling bumi seteleh banyak membaca hasil karya para filosof pendahulunya. Suatu saat dia mengamati bahwa:

Metode Erathostenes
 
  • Dalam satu tahun sekali pada tanggal tertentu saat matahari tepat di tas kepala (Summer Solstice) yaitu tanggal 21 Juni semua dasar sumur di Shina, sekarang Aswan di pinggiran sungai Nil (kota B dalam gambar) terkena cahaya matahari, artinya matahari benar-benar tegak lurus.
  • Di tempat lain yaitu di Alexandria (kota A dalam gambar) , pada tanggal yang sama justru yang dia lihat tugu-tugu membentuk bayangan karena sinar matahari
  • Dari kejadian tersebut Eratosthenes percaya bahwa bumi berbentuk bulat.
  • Dan beranggapan bahwa kota Alexandria dan dan Shina berada pada meridian yang sama.
  • Dia menganggap bahwa jarak antara Alexandria dan Shina (l) adalah 5.000 stadia (l.k. 800 km) sebab jarak tempuh tersebut sama dengan 50 hari perjalanan kereta dengan kecepatan 100 stadia per hari. Stadia atau stadium adalah ukuran panjang arena olah raga yang dipakai masyarakat Yunani waktu itu ( 1 stadia = l.k. 185 meter ).
  • Eratosthenes juga mengemukakan dalil bahwa cahaya matahari yang mencapai bumi berjalan paralel, hal ini sesuai dengan perkembangan ilmu pengetahuan kini. Akhirnya, pada hari itu menurut perhitungan dia panjang sudut bayangan tugu di Alexandria ( sudut n ) adalah sama dengan sudut antara kota Alexandria dan Shina terhadap pusat bumi sebesar 1/50 sudut keliling bumi (l.k. 7o 12') sehingga diperoleh angka keliling bumi : 50x5.000=250.000 stadia. Dengan mengkonfersikan 1 stadia akhirnya diperoleh keliling bumi sebesar 46.300 km sebuah angka yang termasuk luar biasa karena hanya berselisih sedikit (sekitar 15%) dibandingkan menurut perhitungan modern yaitu :
  • Jarak Alexandria - Shina adalah 729 km bukan 800 km.
  • Jarak Alexandria dan Shina tidak terletak se garis meridian ( beda langitude 30 )
  • Shina tidak terletak di Titik Balik Utara "Tropic of Cancer ( 23o 27' )" namun 55 km lebih ke arah Utara.
  • Sudut angular kedua kota bukan 7o 12' melainkan 7o 5'.
Walaupun demikian, apa yang telah dilakukan oleh Erathostenes merupakan langkah yang sangat spektakuler untuk masa itu, sebab itu terjadi pada 2200 tahun yang lalu.

Baca juga artikel ini :


·         7 KEAJAIBAN DUNIA TEMPO DULU
·         Tempat Terbasah Di Bumi
·         Titik Terendah Di Bumi
·         Tempat Terdingin Di Bumi
·         Tempat Terpanas Di Bumi
·         12 Keajaiban Bumi
·         Kuil Angkor Wat, Kamboja
·          

Patarsono

About Patarsono -

Author Description here.. Nulla sagittis convallis. Curabitur consequat. Quisque metus enim, venenatis fermentum, mollis in, porta et, nibh. Duis vulputate elit in elit. Mauris dictum libero id justo.

Subscribe to this Blog via Email :