01 February 2013

Patarsono

Presiden PKS 'Luthfi Hasan Ishaaq' Ditahan di Rutan Guntur

Presiden PKS : Luthfi Hasan Ishaaq
Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) menahan Presiden Partai Keadilan Sejahtera (PKS), Luthfi Hasan Ishaaq, terkait kasus Operasi Tangkap Tangan transaksi suap pengurusan izin impor daging sapi. Luthfi ditahan di Rumah Tahanan Guntur, Jakarta Selatan, setelah menjalani pemeriksaan sebagai tersangka sejak dini hari tadi.

"Yang bersangkutan ditahan di Rutan Guntur," kata Kepala Bagian Pemberitaan dan Informasi KPK, Priharsa Nugraha, Jakarta Selatan, Kamis (31/1/2013).
Luthfi Hasan Ishaaq keluar pukul 17.40 WIB. Tampil mengenakan baju tahanan KPK, Luthfi sempat memberikan pernyataan seputar penahanannya tersebut.

Luthfi menegaskan PKS harus tetap bergerak meskipun dirinya ditahan. Agar kerja-kerja PKS bisa lebih mudah, Luthfi memutuskan mundur sebagai orang nomor satu di partai berasaskan islam tersebut. "Saya mulai hari ini mengajukan pengunduran diri ke Majelis Syuro PKS. Saya harap (pengunduran) ini segera diproses," terang Luthfi.

Dalam kasus suap gading impor, Luthfi Hasan Ishaq disangka melanggar pasal melanggar pasal 12 huruf a atau b, pasal 5 ayat 2 atau pasal 11 Undang-undang Pemberantasan Tipikor jo pasal 55 aytat 1 ke 1. Dia diduga terlibat transaksi suap yang dilakukan oleh dua petinggi PT Indoguna Utama, Juard Effendi dan Arya Abdi Effendi kepada koleganya, Ahmad Fathanah, di kantor yang terletak di Pondok Bambu, Jakarta Timur, Selasa malam.

Ketika suap terjadi Luthfi Hasan Ishaq tidak berada di sana. KPK sendiri menggelandang Luthfi pukul 00.00 dini hari ini atau sekitar sehari setelah Ahmad Fathanah ditangkap bersama Maharani di Hotel Le Meridien dan Juard Effendi dan Arya Abdi Effendi ditangkap di Cakung, Jakarta Timur.

Menurut Bambang, penyidik sudah menemukan dua alat bukti yang cukup bahwa Luthfi ikut menerima janji untuk bisa memuluskan proyek impor daging sapi ke PT Indoguna Utama. "Menurut keyakinan kami ada dua alat bukti yang cukup yang sudah bisa dipakai sebagai dasar untuk mengklarifikasi seseorang diduga terlibat atau tidak terlibat," terang Bambang.


Kasus Luthfi Hasan Runtuhkan Barisan PKS
 Pengamat Politik Universitas Indonesia (UI), Cecep Hidayat menilai kasus dugaan suap yang menimpa mantan Presiden Partai Keadilan Sejahtera (PKS), Luthfi Hasan Ishaaq menjadi klimaks dari rangkaian keterlibatan politikus dalam kasus korupsi.

Cecep menilai, meski Luthfi Hasan orang tertinggi nomor dua di PKS setelah Ketua Dewan Syuro, namun kasus tersebut sudah cukup merobohkan tembok kokoh barisan PKS.

"Ada perspektif LHI ini menjadi klimaks, di mana partai menengah ke partai besar bisa kena kasus korupsi. PKS yang selama ini menjunjung tinggi partai bersih, ternyata karena kasus ini bisa memporak-porandakan bangunan PKS yang kokoh," katanya kepada Okezone, Kamis (31/01/2013).

Apalgi, kata Cecep, kasus ini terjadi jelang pemilu 2014. Namun, lanjutnya, KPK harus mampu membuktikan dan menjelaskan kepada publik, mengapa proses penangkapan LHI begitu cepat. Tak seperti kasus korupsi yang melibatkan pejabat lainnya seperti Angelina Sondakh dan Miranda Gultom.

"Kasus LHI kan dia tidak tertangkap tangan tapi langsung bisa jadi tersangka dan dijemput, tak seperti Miranda Gultom misalnya. KPK harus bisa menjelaskan ini, KPK jangan jadi alat politik, ini pesanan atau bukan dan jangan tebang pilih," tegasnya.

Cecep menambahkan, jangan sampai kasus PKS juga menjadi pengalihan isu penting lainnya. Dia menduga, banyak kader PKS yang seolah mengorbankan LHI seorang diri.

"Ini bisa meruntuhkan PKS. Karena itu, apalagi mau Pemilukada Jawa Barat, saya dengar Ahmad Heryawan bilang ini menjadi urusan LHI  pribadi. Seolah PKS menjauh, jangan sampai LHI dikorbankan sendiri," tukasnya.

 Pengacara Eks Presiden PKS: Penahanan Ini Anomali
  Tim pengacara mantan Presiden Partai Keadilan Sejahtera (PKS) Lutfi Hasan Ishaaq, menuding Komisi Pemberantasan Korupsi bersikap tidak adil dalam memutuskan menahan klienya.

Pengacara Lutfi, Zainuddin Paru, mengatakan Luthfi telah dijadikan martir dalam pemberantasan korupsi di Indonesia. "Kami melihat bahwa proses penetapan tersangka dan penahanan pak Luthfi merupakan anomali dalam proses penegakan hukum di Indonesia, Jadi bagi kami ada proses yang tidak adil," kata dia beberapa saat sebelum Luthfi ditahan di Rumah Tahanan Militer Guntur, Jakarta Selatan, Kamis (31/1/2013).

Zainuddin menyindir kerja KPK lebih memilih segera menahan Luthfi yang baru beberapa jam sebagai tersangka ketimbang pejabat lain yang diduga korupsi dan juga sudah ditetapkan sebagai tersangka.

"Karena penetapan tersangka dalam beberapa jam, kemudian ditangkap kurang dari dua jam. Tapi, ada pejabat lain, penyelenggara negara lain yang ditetapkan tersangka satu sampai dua bulan lalu masih berkeliaran," terangnya seperti menyindir.

Luthfi Hasan Ishaaq akhirnya resmi ditahan KPK karena diduga terlibat dalam transaksi suap antara Juard Effendi dan Arya Abdi Effendi (pihak penyuap) kepada Ahmad Fathanah (pihak penerima suap), di kantor PT Indoguna Utama, Pondok Bambu, Jakarta Timur, Selasa malam. Dia menjadi penghuni baru Rutan Militer Guntur, Jakarta Selatan menyusul tersangka korupsi Simulator Surat Izin Mengemudi (SIM), Inspektur Jenderal Djoko Susilo, dan kawan-kawan.

Juru bicara KPK, Johan Budi, mengatakan Luthfi Hasan ditahan hingga 20 hari ke depan demi kepentingan penyidikan. "Yang bersangkutan ditahan karena dikhawatirkan melarikan diri, menghilangkan barang bukti, atau mengulangi perbuatannya yang sama," terang Johan Budi menjelaskan alasan penahanan Luthfi.

Sebelumnya, Wakil Ketua KPK, Bambang Widjojanto, mengatakan kasus korupsi daging babi impor memang menjadi prioritas yang sedang ditangani. Menurut Bambang, kasus ini berskala prioritas karena termasuk bagian ketahanan pangan yang menjadi dari national interest pemberantasan korupsi.

"Sektor ketahanan pangan itu bisa pupuk, impor, pembenihan. Sektornya mulai dari pertanian, perikanan, pendidikan, dan kesehatan. Ini masuk kualifikasi prioritas KPK," ungkap Bambang.

Ini Kata Cak Imin Soal Partai Islam yang Korup
Ditetapkannya Presiden Partai Keadilan Sejahtera (PKS) Luthfi Hasan Ishaq sebagai tersangka oleh Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) terkait kasus impor daging harus menjadi bahan evaluasi bagi semua partai terutama partai islam.

"Intinya semuanya harus evaluasi," ucap Ketua Umum Partai Kebangkitan Bangsa (PKB) Muhaimin Iskandar saat ditemui dalam acara milad NU ke-87, di kantor PBNU, Jakarta Pusat, Kamis (31/1/2013).

Ketika ditanya lebih lanjut, Menteri Tenaga Kerja dan Transmigrasi itu enggan berkomentar lebih banyak dan langsung bergegas naik ke mobilnya.

"Wah panjang itu, gak bisa cerita disini," pungkasnya.

Seperti diketahui, ditetapkannya status tersangka Presiden PKS Luthfi Hasan Ishaq setelah KPK melakukan operasi tangkap tangan terhadap orang dekat Luthfi yakni Ahmad Fathanah di kamar hotel Le Meridien, Jakarta.

Ketika itu, penyidik KPK memang sudah membuntuti Ahmad saat tengah melakukan transaksi suap sekira Rp1 miliar dengan pihak yang diduga sebagai penyuap dari PT Indoguna Utama, Juard Effendi dan Arya Abdi Effendi di kantornya, kawasan Pondok Bambu, Jakarta Timur, Selasa (29/1) malam.

 Luthfi Hasan Bakal Mundur Sebagai Presiden PKS
 Para petinggi Partai Keadilan Sejahtera (PKS) menghadap Ketua Majelis Syuro PKS, Ustad Hilmi Aminudin, di Padempokan Madani atau Madani Center, Lembang, Kabupaten Bandung Barat, Kamis (31/1/2013).

Ketua Fraksi PKS di DPR, Hidayat Nurwahid, mengatakan, pertemuan tersebut membahas musibah yang menimpa partai berlambang bulan sabit kuning dan padi dan kapas.????

"Dan kami tadi membahas apa yang kami dengar dari LHI (Lurhfi Hasan Ishaaq), bahwa LHI merencanakan untuk mundur sebagai presiden PKS," kata Hidayat.

Masalah pengunduran diri Luthfi Hasan Ishaaq sebagai Presiden PKS juga menjadi poin pembahasan dengan dewan syuro PKS.

"Tentang kemunduran beliau dari PKS, nanti apakah akan disampaikan sendiri oleh LHI atau oleh tim pengacaranya," ujarnya.

Menurutnya, pengunduran diri akan dilakukan hari ini. "Insya Allah hari ini???," tandasnya.

Patarsono

About Patarsono -

Author Description here.. Nulla sagittis convallis. Curabitur consequat. Quisque metus enim, venenatis fermentum, mollis in, porta et, nibh. Duis vulputate elit in elit. Mauris dictum libero id justo.

Subscribe to this Blog via Email :