01 February 2013

Patarsono

Ajaran Sesat "Nabi Palsu" ada Di Karang Anyer ?

POLRES Karanganyar, Jawa Tengah, mencium adanya orang yang mengaku sebagai nabi palsu muncul di wilayahnya. Kapolres Karanganyar, Ajun Komisaris Besar Polisi Nazirwan Aji Wibowo, mengatakan, pihaknya telah mengetahui persis keberadaan nabi palsu tersebut berada di sekitar daerah lereng Gunung Lawu.

Meskipun menolak menyebutkan lokasi serta nama nabi palsu tersebut dengan alasan untuk menjaga ketentraman, Kapolres memastikan seluruh gerak-gerik nabi palsu itu dipastikan sudah dalam pengawasannya.

"Kami terus pantau aktivitasnya sambil menunggu tindaklanjut pendekatan bersama forum muspida. Intelijen tidak melepaskan pantauannya. kami terus melakukan pemantauan keberadaan nabi palsu berserta pengikutnya," kata Nazirwan  di Karanganyar, Jawa Tengah, Selasa (29/1/2013).

Kapolres mengaku khawatir, jika aliran sesat yang mengakui adanya nabi palsu itu dibiarkan terus berkembang akan berbahaya di lingkungannya. Jika sudah demikian, gesekan dan konflik horizintal sesama umat agama kemungkinan besar akan terjadi.Agar tidak terjadi gesekan horizontal di masyarakat, pihaknya terus melakukan koordinasi dengan jajaran Muspida. Langkah ini diambil agar sewaktu-waktu pihak Muspida bisa mengantisipasi bila muncul bibit-bibit gesekan di masyarakat. Menyangkut kapan tindakan tegas akan diambil pihak Kepolisian, Kapolres memastikan setelah hasil pemantauan intelijen tentang nabi palsu sudah lengkap. "Makanya dalam koordinasi dengan bupati dan muspida, kami sudah menekankan masalah ini untuk segera diselesaikan, kalau perlu bubarkan jika memang sudah tidak bisa dibina," pungkasnya.

MUI Minta Polisi Bubarkan Aliran Sesat Nabi Palsu
Ketua Majelis Ulama Indonesia (MUI) Karanganyar, Jawa Tengah, Muhammad Zaenudin, mengaku, bingung dengan pihak Kepolisian yang telah mengumumkan ada orang mengangkat dirinya sebagai nabi. Pasalnya, yang disampaikan Kapolres Karanganyar AKBP Nazirwan Aji Wibowo, sudah lama diketahui MUI.

"Terus terang saya masih bingung dengan pernyataan Kapolres. Kalau yang dimaksud nabi palsu baru tersebut berinisial S yang tinggal di Giri Layu, Matesih, itu sudah lama sekali. S itu penerus dari orang pertama yang juga mengaku sebagai nabi," jelas Zaenudin  Rabu (30/1/2013).

Menurut Zaenudin, bila S yang dimaksud sebagai nabi palsu, maka polisi dinilai belum menindak tegas pelaku.Dengan kemunculan nabi palsu itu, MUI meminta Kepolisian bertindak tegas dengan membubarkan aliran tersebut. Pasalnya, ulah S yang mengaku sebagai nabi, menyimpang dari ajaran agama.

"Sampai sekarang MUI belum diajak berkoordinasi. Kami minta, Kepolisian membubarkan aliran menyimpang tersebut, karena aliran tersebut sudah memiliki pengikut yang cukup banyak dan sangat berbahaya bila dibiarkan," pungkasnya.

Jejak Nabi Palsu di Karanganyar
Nabi palsu S di Kabupaten Karanganyar, Jawa Tengah, dinilai Majelis Ulama Indonesia (MUI) sudah meresahkan. Informasi yang diterima MUI, S bahkan sudah mengangkat orang sebagai nabi palsu lainnya.Hal tersebut disampaikan Ketua Majelis Ulama Indonesia (MUI) Karanganyar, Muhammad Zaenudin saat dikonfirmasi  Rabu (30/1/2013).

Menurut Zaenudin, S merupakan guru agama yang tinggal di dekat Astana Giri Bangun, Matesih, Karanganyar. Dia diangkat oleh nabi palsu sebelumnya bernama Rohmad. Kini Rohmad sudah meninggal dan ajarannya diteruskan oleh S.Dalam menjalankan ajarannya, Rohmad berani mengubah dua kalimat syahadat. "Rohmad berani mengganti dua kalimat syahadat, mengubah nama Nabi Muhammad dengan namanya sebagai utusan Allah," paparnya.

Zaenudin menambahkan, para pengikut S merupakan pengikut Rohmat yang sudah meninggal dunia. Untuk beribadah para pengikutnya, S mendirikan masjid khusus di Giri Layu. S juga diketahui pernah mengangkat seorang pengikutnya sebagai nabi yakni SM, yang berprofesi sebagai guru agama dan tinggal di Kecamatan Kerjo, Karanganyar.MUI, tambah Zaenudin, pernah memanggil S untuk dimintai keterangan dan diimbau bertaubat. "Tapi undangan MUI berkali-kali ditolak S mentah-mentah. Bahkan S menganggap MUI yang menyimpang," jelasnya.

Anak-Anak pun Ikut Aliran Sesat Nabi Palsu di Karanganyar
Majelis Ulama Indonesia (MUI) Kabupaten Karanganyar, Jawa Tengah, mendesak kepolisian segera melakukan tindakan tegas terhadap orang yang diduga mengaku nabi palsu di lereng Gunung Lawu. Pasalnya, pria yang mengaku sebagai nabi itu berprofesi sebagai guru agama, sehingga banyak anak di bawah umur yang ikut aliran tersebut."S yang mengaku sebagai nabi memanfaatkan pengaruhnya sebagai guru agama. Jadi, banyak anak-anak di aliran sesat yang dikembangkannya. Bahaya bila dibiarkan," jelas Ketua MUI Karanganyar, Muhammad Zaenudin, saat dikonfirmasi (30/1/2013).

Zaenudin menambahkan, ajaran sesat nabi palsu Rohmad dilanjutkan para nabi palsu penerusnya yakni S dan SM. Penyebaran syariat dilakukan secara tertutup melalui pengajian kepada para pengikut saja. Kemunculan nabi palsu itu juga sudah dilaporkan ke MUI pusat dan Badan Litbang Kementerian Agama di Jakarta.

"Paling banyak pengikutnya terdapat di Matesih. Kalau soal isi pengajiannya seperti apa, kami belum tahu karena pengajian aliran nabi palsu tertutup dan sulit ditembus," ujarnya.

Sementara itu, Kasi Penerangan Masyarakat Kantor Kemenag Karanganyar, Nurhadi, mengatakan belum ada yang mendengar secara resmi orang tersebut memproklamirkan diri sebagai nabi. Namun, beberapa orang yang pernah mengikuti pengajian yang digelarnya, mengatakan ada perbedaan syahadat.Nurhadi tidak memberikan data rinci karena khawatir permasalahan tersebut akan melebar dan menimbulkan kerawanan."Saat bertemu dengan Pak Kapolres kami melaporkan hal itu. Harapannya, masalah segera diselesaikan melalui Forum Komunikasi Kewaspadaan Dini Masyarakat, (FKDM)," pungkasnya.

Jemaah Nabi S Bantah Lakukan Ajaran Menyimpang
Jemaah Nabi S yang berada di Karanganyar, Jawa Tengah, membantah jika melakukan ajaran Islam yang menyimpang, termasuk penggunaan dua kalimat syahadat yang mengganti nama Muhammad menjadi nama S. “Tidak ada itu. Syahadat kami ya syahadat umat islam lainnya, itu fitnah,” kata HD, salah seorang jamaah saat ditemui di masjid milik S di kawasan Matesi, Karanganyar, Jawa Tengah, Kamis (31/1/2013).

HD menjelaskan, salat yang dilakukan jamaah S sama dengan salatnya umat Islam. “Salat di kelompok pengajian kami juga sama dengan umat islam lainnya,” tuturnya.Meski demikian, HD tidak menampik bahwa S merupakan jamaah R yang dahulu dinilai menerapkan ajaran menyimpang oleh MUI setempat.“Kalau S pernah menjadi murid dari R, itu memang benar. Tapi kalau S juga mengangkat dirinya sebagai nabi itu fitnah, karena dia tidak pernah mengangkat dirinya sebagai nabi," tuturnya.

Jamaah Nabi S Siap Buka-bukaan dengan Siapapun
Beredarnya kabar bahwa S telah mengangkat dirinya sebagai nabi baru, membuat keresahan di jemaah pengajian yang dipimpin S.Untuk membuktikan tidak ada yang menyimpang atas ajaran yang diberikan S, jemaah pun mempersilahkan pihak-pihak mengikuti pengajian kelompok tersebut.“Silahkan datang pada kami. Kami membuka pintu selebar-lebarnya kepada siapa saja yang mau datang ke pengajian kami," kata HD, salah seorang jemaah S, saat ditemui  kawasan Matesi, Karanganyar, Jawa Tengah, Kamis (31/1/2013).

Dia menjelaskan, apa yang diajarkan S tidak ada yang menyipang dari ajaran Agama Islam, termasuk salat dan pembacaan dua kalimat syahadat.“Syahadat kami ya syahadat umat Islam lainnya. Itu fitnah," tegasnya berulang kali.Sebelumnya, MUI Karanganyar mengaku telah mengawasi kelompok S yang dinilai melakukan penyimpangan. Bahkan S dinilai MUI telah menetapkan dirinya sebagai Nabi.

 Kasus Nabi Palsu, S: Saya Bukan Nabi & MUI Fitnah Saya
 S membantah semua tuduhan yang dialamatkan kepada dirinya sebagai nabi palsu. Bahkan S menuding apa yang dituduhkan Majelis Ulama Indonesia (MUI) Karanganyar, Jawa Tengah, kepada dirinya yang telah mengangkat sebagai nabi dan menyebarkan ajarannya sendiri adalah fitnah."Tudingan itu dari mana dan bagaimana yang dimaksud, serta bagaimana membuktikannya.Tidak asal menuding saja. Menuding itu satu menunjuk dan yang empatnya mengarah ke kita sendiri. Jangan memfitnah, itu lebih kejam dari membunuh. Saya tidak marah meskipun berakibat buruk buat saya," kata S saat ditemui  di kediamannya, Giri Layu, Matesih, Karanganyar, Jawa Tengah, Jumat (1/2/2013).

Meskipun dirinya merasa dirugikan dengan tudingan yang dialamatkan kepada dirinya karena mengaku sebagai seorang nabi, namun S tidak akan menuntut pihak-pihak yang telah menudingnya."Meskipun itu merugikan, tapi saya tidak akan menuntut. Saya tidak merasa seperti yang ditudingkan. Kalau saya menuntut jadinya tidak jelas,"paparnya.Sebelumnya, MUI Karanganyar mengaku telah mengawasi kelompok S yang dinilai melakukan penyimpangan. Bahkan S dinilai MUI telah menetapkan dirinya sebagai Nabi.

Kasus Nabi Palsu, S Sebut Tak Pernah Dipanggil MUI
S yang disebut-sebut sebagai Nabi palsu oleh Majelis Ulama Islam (MUI) Karanganyar, mengaku tidak pernah dipanggil lembaga dakwah umat Islam itu.Saat ditemui  di kediamannya kawasan Giri Layu, Matesih, Karanganyar, Jawa Tengah, S juga tidak pernah dimintai klarifikasi terhadap MUI."Kalau dibutuhkan, dipanggil kenapa tidak. Saya Insya Allah tidak apa-apa dan bisa menerima fitnah tersebut," kata S, Jumat (1/2/2013).

S mengaku tidak mengerti asal muasal fitnah tersebut dilancarkan MUI. Pasalnya, S tidak pernah sekalipun mengangkat dirinya sebagai nabi dan menyebarkan ajarannya sendiri.S juga meminta untuk ditunjukan ajaran apa yang disebut-sebutkan telah diajarkan dirinya kepada masyarakat luas, termasuk dua kalimat syahadat yang kalimat nama nabi Muhammad diganti namannya."Tolong yang menyimpang itu yang mana, tunjukkan. Kalau memang ada yang menyimpang, nanti bisa diperbaiki bersama. Fitnah itu seperti itu, mengabarkan yang tidak benar,"paparnya.

Justru S sendiri mengaku terkejut adanya kabar yang menyebutkan dirinya telah menganjurkan jemaahnya untuk berkorban tidak menggunakan hewan kurban seperti domba atau unta, tapi cukup berkurban dengan menggunakan pepaya.Tidak hanya itu, S mengaku dirinya dikabarkan juga memberi anjuran kepada masyarakat untuk tidak menunaikan ibadah haji ke tanah suci Mekkah, Arab Saudi, melainkan cukup naik haji dengan pergi ke Gunung Lawu."Itu benar-benar sangat menistakan sekali. Saya tidak pernah menganjurkan kurban dengan pepaya dan naik haji cukup ke Gunung Lawu tidak perlu ke tanah suci, itu tidak benar. Dan jangan sepihak karena itu kebenaran harus di tegakan. MUI dan pihak-pihak yang menuding saya sebagai nabi, tolong buktikan pada saya," tegasnya.

 S Pastikan R Tak Pernah Angkat Dirinya Sebagai Nabi
 S, warga Girilayu, Matesih, Karanganyar, Jawa Tengah, tidak memungkiri bila dirinya kenal almarhum R, yang dituding telah mengangkat dirinya sebagai nabi."Saya memang kenal dengan R, tapi dia bukan guru saya. Karena dalam agama Allah, tidak ada istilah guru dan murid, tetapi kalau orang kemudian mengatakan guru dan murid silahkan. Ini bukan sekolahan," kata S di kediamannya, Matesih, Karanganyar, Jawa Tengah, Jumat (1/2/2013).S menilai, selama kenal R tidak ada ajaran atau perilaku yang menyimpang dari mantan Nabi itu. “Semuannya sesuai dengan yang diajarkan dalam agama, rukun imam, dan rukun islam," papanya.

Seperti tudingan yang dialamatkan kepada pihaknya, S juga membantah bila R tidak pernah mengangkat dirinya sebagai nabi, termasuk merubah dua kalimat Syahadat.Untuk menunjukan bila dirinya dan R tidak menyimpang dalam ajaran agama, S menunjukan buku bersampul warna kuning yang berisi tentang pedoman yang bertuliskan “Kunci Pedoman Bagi Imam dan Jamaah Muslimin Untuk 100 Tahun Sepeninggalnya Imam Guna Memenuhi Hak-haknya Allah Tentang Amanatnya Di dalam Allah memberi Peringatan Baru Kepada Kita Sekalian”Menurut S, buku yang ditulis dengan menggunakan tangan tersebut bukan kitab atau ajaran-ajaran yang sengaja dibuat R dan diteruskan ke dirinya. Buku pedoman tersebut hanya berisi tentang semua ajaran yang tertulis dalam Alquran.Sedangkan Imam yang dimaksud dalam buku pedoman tersebut, menurut S, bukanlah R. Imam yang tertulis dalam buku pedoman tersebut, yakni siapa saja yang dipercaya sebagai Imam.

"Itu berlaku hanya untuk 100 tahun saja. Sesudah itu tidak berlaku sudah tidak murni lagi. Siapa saja yang dijadikan Imam. Kalau yang dimaksud itu, bisa. Dan buku pedoman tersebut bukan kita, namun hanya pedoman untuk menjalankan perintah Allah," ujar S tanpa mempertegas Imam yang dimaksud dalam buku pedoman tersebut.Menyangkut adanya masjid yang dipergunakan S untuk mensiarkan agama barunya tersebut, kembali dibantahnya. S mengatakan, dirinya tidak memiliki masjid seperti yang ditudingkan pihak-pihak lain kepada dirinya mensiarkan agama barunya."Di masjid saya hanya makmum biasa. Tidak pernah menjadi Imam dan tidak pernah memberikan ceramah. Kalau salatnya jauh itukan sudah ada di agama. Salatnya jauh maka pahalanya banyak," paparnya.

Patarsono

About Patarsono -

Author Description here.. Nulla sagittis convallis. Curabitur consequat. Quisque metus enim, venenatis fermentum, mollis in, porta et, nibh. Duis vulputate elit in elit. Mauris dictum libero id justo.

Subscribe to this Blog via Email :