12 February 2013

Patarsono

Demokrat Tak Akan Diserahkan Lagi pada Anas ?

Pengamat politik Fadjroel Rachman, menilai, langkah Ketua Majelis Tinggi Partai Demokrat, Susilo Bambang Yudhoyono (SBY), untuk melakukan bersih-bersih partai, merupakan ketidakmampuan Anas Urbaningrum untuk menjalankan gerbong Partai Demokrat.Apalagi, elektabilitas partai berlambang bintang mercy tersebut terus merosot pada kepemimpinan Anas. Beberapa survei menunjukkan tingkat keterpilihan Partai Demokrat terjun bebas dari 21 persen menjadi delapan persen.

“Anas dianggap tidak mampu menjalankan mandat partai. Kalau bersih-bersih ini sudah selesai, apa mungkin Demokrat akan diserahkan ke Anas? Tidak mungkin diserahkan,” kata Fadjroel Minggu (10/2/2013).Menurut Fadjroel, meskipun pada akhirnya status tersangka tidak disandang Anas, terkait kasus Hambalang, tak akan mengubah keputusan SBY untuk kembali menyerahkan kendali partai kepada mantan Ketua HMI itu.“Tidak sebagai tersangka saja, SBY tak mengembalikan Demokrat pada Anas, apalagi bila dia ditetapkan sebagai tersangka oleh KPK,” tambahnya.

KPK yang terkesan mengulur-ulur untuk menentukan status Anas, lanjutnya, dikarenakan masih melakukan penelusuran bukti-bukti. Menurutnya, KPK tidak mudah diintervensi pihak luar meskipun dari presiden.“Orang-orang seperti Bambang Widjojanto dan Abraham Samad tidak mudah dikendalikan. Terlalu murah kalau mereka bisa diintervensi. Lamanya penentuan status Anas, karena penyamaran suap kasus tersebut terlalu panjang, sehingga membutuhkan waktu,” tuturnya.

Fadjroel menambahkan, pidato SBY tentang penyelamatan Partai Demokrat pada Jumat, 8 Februari malam, semakin mengukuhkan bahwa partai tersebut merupakan miliknya. Apalagi semua petinggi partai juga tidak dapat berbuat banyak untuk mengatasi konflik internal, dan menyerahkan kepada Ketua Majelis Tinggi.

“Partai Demokrat semakin mirip dengan zaman orde baru. Pendewasaan partai sangat rendah. Seorang ketua umum yang dipilih kongres ternyata bisa dipreteli kewenangannya oleh orang yang bukan dipilih kongres. Seperti itu kan bukan demokratis,” jelasnya.

Anggota DPD Demokrat & KAHMI Kumpul di Rumah Anas
anas urbaningrum
Rumah kediaman Ketua Umum Partai Demokrat Anas Urbaningrum di Jalan Teluk Semangka No 47, Komplek TNI AL, Duren Sawit, Jakarta Timur semakin ramai dikunjungi tamu. Para tamu yang terlihat menyambangi rumah Anas ialah anggota Korps Alumni Himpunan Mahasiswa Islam (KAHMI) dan sejumlah anggota DPD Partai Demokrat.Beberapa dari mereka mengaku datang dari berbagai daerah di luar Jakarta, meliputi Pemalang (Jawa Tengah) dan Surabaya (Jawa Timur). Mereka mulai berdatangan secara bergantian sejak pukul 20.00 WIB

Salah satunya adalah anggota KAHMI dari Pemalang Jawa Tengah Doddy Alfayed. Dia datang jauh-jauh dari Pemalang hanya beralasan untuk mengaji di rumah Anas. Doddy juga mengaku satu angkatan dengan mantan Ketua Umum PB HMI periode 1999, Taufik Hidayat. Namun, Dody mengaku bukan sebagai kader Partai Demokrat."Kita jauh dari kampung Pemalang mau tengok Mas Anas sakit. Kita silaturrahmi saja sekaligus mengadakan pengajian, emang biasa ngaji kok," katanya saat ditemui sebelum masuk ke rumah Anas, Jakarta Timur, Senin (11/2/2013) malam.

Doddy masuk berbarengan dengan Dedy Prihambudi yang merupakan pengurus DPD Partai Demokrat Jawa Timur. Tak ada komentar banyak yang terlontar dari mulut Dedy, sesaat sebelum memasuki rumah bergaya joglo ini. Dia hanya mengenalkan diri agar diperbolehkan masuk."Saya Dedy dari DPD Jatim mau masuk ke dalam," kata Dedi memperkenalkan diri sebelum masuk rumah Anas.

Belum diketahui secara pasti soal kedatangan tamu yang datang ke rumah Anas ini. Banyak diantaranya yang mengaku menjenguk Anas yang sedang sakit, ada pula yang mengaku hanya untuk menggelar pengajian di rumah ini.Anas sendiri dikabarkan sakit dan tidak datang saat penandatangan pakta integritas penyelamatan Partai Demokrat yang digelar di Puri Cikeas, Gunung Putri Bogor kemarin malam. Pakta ini sendiri ditandangani oleh 33 Pengurus DPD Partai Demokrat. 

SBY Terancam "Digoyang" Kubu Anas
Prahara yang melanda Partai Demokrat diyakini bakal terus berlanjut. Sejumlah kadernya yang tersangkut kasus korupsi membuat partai besutan Susilo Bambang Yudhoyono (SBY) itu kian terpuruk. Bahkan, konflik internal partai disinyalir bakal membuat partai berlambang bintang mercy itu semakin terombang-ambing. "Kalau Anas gagal menaikkan elektabilitas Partai Demokrat, maka akan menjadi petaka bagi SBY. Tentunya ia (SBY) akan digoyang oleh kelompok pro Anas," ujar pengamat politik Charta Politika, Arya Fernandes, di Jakarta, Senin (11/2/2013) malam.

Arya menjelaskan, kondisi ini kemudian diperburuk dengan munculnya hasil survei Saiful Mujani Research Consulting (SRMC) yang menempatkan Demokrat di posisi ketiga dengan raihan suara yang anjlok yakni hanya 8,3 persen.

Sebagai Ketua Majelis Tinggi dan Wakil Ketua Majelis Tinggi Partai Demokrat, SBY dan Anas Urbaningrum memiliki tanggungjawab untuk memperbaiki kondisi dan citra Partai Demokrat menjelang perhelatan Pemilu 2014. Seandainya Anas lolos dari jeratan KPK terkait kasus Hambalang, lanjut Arya, besar kemungkinan kelompok pro Anas juga bakal menggoyang majelis tinggi."Jika tidak ada perkembangan signifikan terhadap status Anas dalam kasusnya, maka  akan ada turbulensi kuat di Demokrat yang bakal menggoyang SBY," tukasnya.



SBY Dinilai Cari Aman

Keputusan Majelis Tinggi Partai Demokrat (PD), Susilo Bambang Yudhoyono (SBY), menempatkan Anas Urbaningrum sebagai Wakil Ketua Majelis Tinggi partai berlambang bintang mercy tersebut, dinilai sebagai upaya cari aman.

Menurut Pengamat Politik, Yudi Latief, penempatan tersebut sengaja dilakukan karena SBY tidak bisa melengserkan langsung Anas yang diketahui memiliki dukungan besar di Demokrat."Dukungan Anas begitu kuat maka dia masih bisa cari aman, karena itu Anas disimpan sementara, yakni tidak ambil jalan ekstrim dengan meminta dia mundur, tetapi dengan menyangkutnya dalam kasus hukum di KPK," kata Yudi, usai sebuah diskusi di Jakarta, Minggu (10/2/2013).Selain itu, kata dia, cara ini juga membuat pendukung Anas di PD tidak membangkang dan marah jika suatu saat Anas menjadi tersangka kasus Hambalang."SBY hanya konsen untuk menyelamatkan partai tetapi terlihat dia begitu memperitmbangkan posisi Anas yang memiliki kemampuan dan bisa memiliki putusan untuk back fighter," jelasnya.

Menanggapi apakah suara PD akan menanjak setelah SBY memegang kendali, Yudi menuturkan dia tidak yakin suara Demokrat bisa kembali normal, karena tedensi sudah menurun."Satu digit bukan lagi dua digit. Karena kompetisi semakin ketat," tambahnya.
 

Patarsono

About Patarsono -

Author Description here.. Nulla sagittis convallis. Curabitur consequat. Quisque metus enim, venenatis fermentum, mollis in, porta et, nibh. Duis vulputate elit in elit. Mauris dictum libero id justo.

Subscribe to this Blog via Email :