02 February 2013

Patarsono

Nagari Bidar Alam Ibu Kota RI Yang Terlupakan

Tugu Bela Negara Batu Bidar
Sangat memprihatinkan ketika kita melihat kondisi bangunan peninggalan Pemerintahan Darurat Republik Indonesia (PDRI) di Nagari Bidar Alam, Kabupaten Solok Selatan, Sumatera Barat. Tampak kondisi bangunan saksi sejarah PDRI tidak terawat. Sentuhan tangan pemerintah dari kabupaten dan provinsi sangat kurang. Padahal kalau kita runut kembali sejarah, tak dapat dipungkiri bahwa kota tempat bangunan ini berdiri pernah menjadi Ibu Kota Negara Republik Indonesia.

Selain itu, rumah yang pernah ditempati para pejabat PDRI kini tidak layak huni lagi. Malah, satu rumah sudah hancur. Rumah jama kondisinya juga sudah lapuk. Dana rehap yang diberikan Kementerian Sosial tidak jelas. Rumah itu kini ditempati Eva Vismadewi dan suaminya, Afrizal

Ali Sabri Abas, Wali Nagari Bidar, menuturkan bahwa Tugu Bela Negara kondisinya saat ini tidak bagus lagi. Tugu tersebut dibangun pada 1981 pada masa Guburnur Azwar Anas. Kondisi tugu kotor tak terawat. Dinding bangunan di sekitar tugu hitam penuh bekas lem tempelan pengumuman.

Tidak ada lagi peninggalan bekas PDRI di dalam rumah. Bahkan, tempat tidur Kepala PDRI, Syafruddin Prawiranegara, hanya ditaruh di gudang. Kondisinya juga sudah patah dan berkarat.”Yang direnovasi itu hanya bagian luarnya saja, di dalamnya sudah lapuk,” ungkap Eva.

Di depan rumah jama, dulunya ada stasiun radio milik TNI AU, yakni Sender AURI. Bangunan tersebut kini sudah berlantai dua dan dijadikan Taman Pendidikan Alquran (TPA).Selain itu, ada juga Masjid Mr Syafruddin Prawiranegara. Namun saat ini renovasinya bisa dibilang terbengkalai.

Ali menambahkan, usulan dana untuk perbaikan dan biaya perawatan aset PDRI sudah disampaikan ke Pemerintah Solok Selatan, namun pemkab menyerahkan itu ke Pemerintah Provinsi Sumatera Barat. Setelah dicek ke pemprov, dilempar lagi ke pemerintah pusat di Jakarta melalui Kementerian Sosial.”Kita sudah tidak semangat lagi, begitulah perjalanannya. Bila pemerintah tidak mau merawat aset ini, biarkan kami yang membiayainya,” kata Ali pasrah.

Jejak Pemerintah Darurat RI di Bidar Alam

Ibnu Abbas saksi sejarah PDRI di Bidar Batu Alam
Kalau hanya karena alasan makanan, tentu Ketua Pemerintahan Darurat Republik Indonesia (PDRI), Syafruddin Prawiranegara, tidak akan pindah dari Nagari Abai ke Bidar Alam.Namun, berkat lobi Khatib Djamaan, yang mengajak Syafruddin pindah dengan jaminan bahwa orang Bidar Alam adalah Masyumi, akhirnya pemerintahan berpindah ke Bidar Alam.

Nagari Bidar Alam di Kabupaten Solok Selatan, Sumatra Barat, merupakan saksi sejarah Republik Indonesia saat masa darurat 1948. ketika itu Belanda menahan Presiden Soekarno dan Wakil Presiden Mohammad Hatta. Bila dibandingkan dengan lokasi lain yang disinggahi Syafruddin, Bidar Alam merupakan tempat terlama yang disinggahinya, yakni 3,5 bulan.

Di Jorong Bulian, Nagari Bidar Alam, tinggal satu-satunya tokoh sejarah saksi mata masa pemerintahan darurat Indonesia, Ibnu Abbas (84). Dia merupakan asisten dr Sambiyono. Sambiyono sendiri merupakan dokter pribadi Syafruddin. Rambut, janggut putih, peci haji, serta batik cokelat yang disempurnakan dengan sarung motif kotak, menjadi penampilan khas Abbas. Meski usianya sudah senja, namun Abbas masih ingat betul bagaimana saat-saat Syafruddin masuk ke Sumatera Barat.Abbas pun memulai cerita kebersamaannya dengan Syafruddin. Awalnya, dia mengaku tidak mengenal Syafruddin. Namun, melalui radio, dia mendengar bahwa Presiden Soekarno dan Mohammad Hatta sudah ditangkap Belanda.

“Orang bilang Bapak Syafruddin sebagai kepala pemerintah darurat akan datang ke sini untuk mengomando perang gerilya. Itu berita sampai di sini,” tutur pria kelahiran 1928 yang masih tampak segar itu.

Dia kembali berkisah, dari keterangan yang dia dapat, sebenarnya Syafruddin hendak menuju ke Pekanbaru, Riau, namun batal. Sebab, keberangkatannya sudah diketahui Belanda.

“Saat menuju ke Pekanbaru, rombongan mobilnya ditembak oleh Belanda dengan cocor merah (pesawat capung, red). Beruntung, saat itu dia tidak kena tembak, namun mobilnya rusak dan kaca matanya pecah. Setelah itu, dia meneruskan perjalanan ke Pulau Punjung, Dharmasraya,” sambungnya.

Perjalanan diteruskan ke Pulau Punjung, namun mereka tidak bisa lama di daerah itu. Sebab, Belanda mudah menjangkau mereka. Pada 3 Januari 1949, rombongan PDRI menuju Abai lewat Sungai Dareh.

”Perjalanan mereka menempuh waktu sehari semalam. Itu pun memakai perahu menggunakan dayung dari bambu. Perjalanan lama karena melawan arus sungai,” ungkapnya.

Sementara, sebagian rombonganya ada yang lewat darat dan ada yang kembali ke Payakumbuh untuk memantau perkembangan Belanda sambil berkoordinasi dengan pejuang di daerah tersebut.

Setiba di Abai, Syafruddin dan rombongan menginap rumah Angku Palo Gaek. Melihat kondisi itu, Pemerintah Kecamatan Perang Bidar Alam, Bustam Kamil, melakukan rapat untuk menjemput Syafruddin.

”Rapat itu dihadiri Camat Perang, namanya Bustam Kamil; Wali Otonomi Ridwan Darwis Daud; Darwis K, sebagai Kepala Pemuda di sini; Marlis Bagindo, Sekretaris Otonom Daerah; dan beberapa tokoh lainnya,” bebernya.

Penjemputan ini dilakukan karena sumber makanan di Abai itu dari Bidar Alam dan diantar pakai perahu. Jadi maka diputuskan itu untuk menjemput ketua PDRI lewat Khatib Jamaan selaku Komandan Badan Pertahanan Nagari dan Kota (BPNK).

”Saat menjemput Pak Syafruddin, Khatib Jamaan membawa dendeng empat kilogram. Dia menumpang perahu pedagang menuju Abai. Ini dilakukan untuk menyamar agar tidak diketahui mata-mata Belanda. Selain itu, memang jalan darat tidak ada,” ujarnya.

Memasuki Abai, rombongan mendapat pengawalan sangat ketat dari tentara dan BPNK Sangir. Saat itu, Khatib Djamaan bersama temannya harus diperiksa dulu. Pemeriksaan juga dilakukan secara berlapis. Setelah mendapat keyakinan, maka Khatib Djamaan bertemu dengan Syafruddin.

Ketika sampai di rumah Angku Palo Gaek, Khatib Jamaan menyampaikan pesan kepada Syafruddin untuk pindah ke Bidar Alam. Namun, saat itu Syafruddin belum yakin, maka diutuslah tentara untuk melihat kondisi serta memberikan laporannya.

Setelah dipastikan aman, rombongan terdiri dari 39 orang, termasuk Syafruddin, berangkat ke Bidar Alam pada 24 Januari 1949. ”Sampai di Bidar Alam, barulah saya bertemu dengan beliau. Bapak Syafruddin dan rombongan disambut di pelabuhan dekat Surau Annur. Kemudian, keamanan diserahkan ke BPNK Bidar Alam,” ungkapnya.

Ada beberapa hal yang masih dipertanyakan soal lamanya Syafruddin di Bidar Alam serta alasan kepindahnya ke tempat itu. Dari pernyataan di atas alasan pindah ke Bidar Alam karena stok makanan yang susah. Namun, di balik itu, kata Abbas, ada unsur politik sehingga Ketua PDRI mau diajak ke lokasi baru.

”Bidar Alam orangnya Majelis Syuro Muslimin Indonesia (Masyumi) semuanya. Khatib Jamaan itu ketua dan saya wakilnya. Jadi Bidar Alam kami Masyumikan semuanya. Sementara Pak Syafruddin itu kan orang Masyumi. Memang ada PKI yang datang, tapi kami tidak peduli itu. Kami perlu Pak Syaf,” terangnya.

Abbas menuturkan, selama Syafruddin berada di Bidar Alam, dia menjadi pengawalnya. Syafruddin betah di Bidar Alam sebab dia merasa seperti di kampungnya sendiri.

”Bahkan saat di Bidar Alam, kalau dia pergi ke mana tidak pakai pengawal, tidak seperti wakilnya Mohammad Hasan. Dia punya pengawal dan memakai senjata lengkap, bernama Ibrahim. Buang air besar saja dikawal. Saat di Bidar Alam mereka menginap di rumah penduduk, untuk Pak Syaf tinggal di Rumah Jama,” ulas Abbas.

Abbas mengawal Syafruddin dengan jarak 10 meter. ”Saya mengawasinya dan memantau, tapi itu jaraknya 10 meter. Biasanya, beliau keluar itu pakai kain sarung. Kadang-kadang pergi sendiri saja tidak minta dikawal,” ungkapnya.

Meski secara geografis daerah Bidar Alam saat itu sangat susah dijangkau, namun komunikasi dengan jaringan pemerintah di Pulau Jawa tetap dilakukan dengan radio milik Angkatan Udara Republik Indonesia (AURI). Saat itu peran AURI sangat besar dalam menyediakan peralatan komunikasi dengan pemerintah sipil dan militer.

”Di sini saat itu ada radio Markoni. Dia bicara sendiri seperti orang gila,” ungkapnya.

Dalam buku yang ditulis Guru Besar Universitas Negeri Padang, Mestika Zed, menyebut, stasiun Radio Bidar Alam dipimpin oleh Opsir Udara III Dick Tamimi beranggotakan teknisi dan telegrafis Sersan Mayor Udara Kusnadi dan Sersan Mayor Udara R Oedojo. Ketiganya berasal dari AURI Komandemen Bukittinggi.

Stasiun itu juga diperkuat seorang perwira sandi Opsir Muda Udara III Umar Said Noor dan seorang telegrafis Kopral Zainal Abidin. Keduanya berasal dari Pangkalan Udara Jambi. Semua radio memilki sandi berganti-ganti. Biasanya, mereka bekerja pada malam hari mulai pukul 22.00 sampai 04.00 dini hari. Kerjanya mengirim dan menerima berita dalam lingkungan AURI. Selain itu juga menyadap sandi musuh.Stasiun tersebut juga menyiarkan kegiatan PDRI kepada pejuang-pejuang lainnya di Sumatera dan Jawa. Rombongan PDRI di Bidar Alam pergi pada 22 April 1949.Alasan kepindahan, Pemerintah Belanda sudah mencium keberadaan Syafruddin di Bidar Alam.

Makanan untuk Kepala Pemerintahan Darurat pun dari Warga

Selama Pemerintahan Darurat Republik Indonesia (PDRI) berada di Nagari Bidar Alam, Kabupaten Solok Selatan, Sumatra Barat, bahan makanan dan logistik didapat dari dari dapur umum dan warga sekitar. Saksi sejarah pemerintahan darurat di Bidar Alam, Ibnu Abbas (84), mengatakan, untuk makan sehari-hari para pejabat, termasuk Syafruddin Prawiranegara dan para menterinya, dibuatlah dapur umum. Dapur diketuai Sari Beganti dibantu tujuh orang.

Masyarakat pun juga membantu, setiap kepala keluarga menyumbang satu bungkus. Nasi dan lauk dimasak pagi hari dan diletakkan di depan rumah. Kemudian, petugas Badan Pertahanan Nagari dan Kota (BPNK) datang ke rumah-rumah untuk mengambil nasi bungkus tersebut. Selain untuk kepala pemerintahan dan para menteri, warga juga menyumbang nasi bungkus untuk para tentara yang bertempur di Alahan Panjang, Lubuk Batu Gajah.

Menurut Abbas, tentara hanya sempat makan paling lama 15 menit. Mereka harus berjalan jauh dari medan perang untuk sampai ke Bidar Alam demi mengisi perut. Bidar Alam merupakan tempat yang aman bagi tentara untuk sekadar istirahat.

”Tentara setiap minggu bergantian. Belanda tidak berani ke sini dan tidak pernah ke Bidar Alam, hanya kapal terbang yang lewat sini,” ujar Abbas.

Kalau stok beras menipis, para petugas berangkat ke Muara Labuh dan Sungai Pagu. Daerah-daerah tersebut dikenal sebagai gudang beras yang terkenal di Sumatera Barat.”Itu makanya kami tarik Pak Syafruddin ke Bidar Alam karena akses ke daerah lain lebih dekat dari pada dari Abai,” sebut Abbas.

Pengumpulan beras juga dilakukan sampai Kerinci. Beras dibawa dari Kerinci tidak menggunakan kendaraan, melainkan kuda. Iring-iringan kuda dikawal 40 anggota BPNK. Beras-beras tersebut dibeli dengan uang pemberian Syafruddin. Selain itu, terkadang beras dibarter dengan kain belacu. ”Sekali angkut bisa 1,4 ton ke Bidar Alam. Namun juga dimanfaatkan pasukan untuk mendapat informasi serta kontak-kontak dengan bupati. Jadi mereka juga merangkap mata-mata,” tuturnya.

Sementara itu, untuk melancarkan roda pemerintahan darurat, dibuatlah bank untuk mencetak uang. ”Uang itu dicetak di sini dan laku di sini. Uang itu logonya kapal terbang. Sementara uang Belanda itu tidak laku,” jelas Abbas.

Tak hanya itu, untuk meningkatkan keamanan di Bidar Alam, dibentuklah tim pengintai. Orang-orang yang datang dari luar Bidar Alam akan dicegat. Petugas pengintai merupakan pasukan khusus yang memiliki ilmu bela diri. Mereka beroperasi di perbukitan di Bidar Alam serta daerah yang rawan disusupi musuh.

“Tentara Belanda tidak bisa masuk ke sini sebab jalurnya sangat sulit, yang bisa tembus ke sini itu hanya pesawat Belanda. Namun, tidak bisa melihat kegiatan sebab kawasan di sini dulu banyak pohon,” pungkas Abbas.

 Pemerintahan Darurat RI Beri Kursus Kedokteran & Ekonomi

Selama pemerintah darurat berpusat di Bidar Alam, Kabupaten Solok Selaran, Sumatra Barat, banyak manfaat bisa diraup warga. Kepala Pemerintahan Darurat Republik Indonesia (PDRI) Syafruddin Prawiranegara, dikenal suka berolahraga, mengaji, diskusi, serta konsern dengan kesehatan dan ekonomi. Saksi sejarah yang pernah menjadi pengawal Syafruddin Prawiranegara, Ibnu Abbas, mengatakan, Syafruddin sering berolahraga, khususunya sepakbola. “Kadang pemuda Bidar Alam akan bertanding dengan tim dari PDRI, itu sangat seru,” kata Abbas.

Baginya, pengalaman berkesan dan saat ini masih membekas manfaatnya adalah saat dia mendapat pendidikan kesehatan dari Sambiyono, dokter pribadi Syafruddin.“Berkat pendidikan dari Beliau saya bisa mengobati warga sakit di sini. Sekaligus memberikan obat-obatan serta menyuntik dan menyunat warga. Jumlahnya sudah ribuan,” ungkap Abbas. Apalagi, saat itu warga Batang Sangir banyak yang menderita penyakit kulit. Sambiyono dengan rela memberi obat-obatan serta memberikan pendidikan kepada warga setempat. “Seperti membuat ramuan obat-obatan itu dapat dari Pak Sambiyono,” tuturnya. Dia juga mengaku diajari cara menyuntik dalam kondisi darurat. Saat itu, hanya ada jarum suntik nomor 1 dan 2 yang ukurannya besar. Biasanya masyarakat yang diobati memberi imbal jasa dalam bentuk barang atau bahan makanan, seperti ayam, ikan, dan beras. “Karena banyak ayam, Sambiyono akhirnya membuat kandang ayam,” tambah Abbas.

Selain kursus kesehatan, Ketua PDRI juga memberikan kursus politik, terutama menjelaskan gerak maju perjuangan kemerdekaan dan posisi Belanda dalam percaturan revolusi politik yang berlangsung saat itu. “Yang ikut kursus itu tidak hanya warga Bidar Alam saja, tapi daerah luar juga,” ujarnya.

Selain politik, ekonomi koperasi juga diajarkan para menteri darurat. Kalau koperasi diajarkan Menteri Keuangan PDRI sekaligus merangkap Menteri Kehakiman, Loekman Hakim. Hasil pelatihan, koperasi karet warga mengalami kemajuan pesat. Sayangnya, Bidar Alam saat ini seperti terlupakan. Tak banyak pejabat yang datang ke Bidar Alam.

Pejabat level nasional yang pernah singgah hanya Menteri Sosial Bachtiar Chamsyah. Dia datang pada 9 Juni 2008. Saat itu, Bachtiar menyerahkan bantuan pemugaran masjid dan rumah jamak masing-masing Rp100 juta dan Rp300 juta. Dia juga membantu pembangunan taman makam pahlawan dan Museum PDRI, masing-masing Rp1 miliar.

Baca juga artikel ini :


·         7 KEAJAIBAN DUNIA TEMPO DULU
·         Tempat Terbasah Di Bumi
·         Titik Terendah Di Bumi
·         Tempat Terdingin Di Bumi
·         Tempat Terpanas Di Bumi
·         12 Keajaiban Bumi
·         Kuil Angkor Wat, Kamboja
·          

Patarsono

About Patarsono -

Author Description here.. Nulla sagittis convallis. Curabitur consequat. Quisque metus enim, venenatis fermentum, mollis in, porta et, nibh. Duis vulputate elit in elit. Mauris dictum libero id justo.

Subscribe to this Blog via Email :

1 komentar:

Write komentar
wahyu fajri
AUTHOR
May 2, 2013 at 4:24 PM delete

follow kami di twitter @BidarAlam. akun resmi anak nagari Bidar Alam

Reply
avatar