15 May 2014

Patarsono

Taksonomi Dan Identifikasi Ular Kobra (King Kobra)

Taksonomi Dan Identifikasi Ular Kobra (King Kobra)
Filum              : Chordata
Kelas              : Reptilia
Ordo               : Squamata
Famili             : Elapidae
Genus              : Ophiophagus
Spesies             : Ophiophagus hannah

gambar ular king kobra (Ophiophagus Hannah)
King Kobra (Ophiophagus hannah) adalah ular berbisa terpanjang di dunia dengan panjang tubuh keseluruhan mencapai sekitar 5,7 m. Akan tetapi panjang hewan dewasa pada umumnya hanya sekitar 3 - 4,5m. Ular ini ditakuti banyak orang karena bisanya yang mematikan dan sifat-sifatnya yang terkenal agresif, meskipun banyak catatan yang menunjukkan perilaku yang sebaliknya.

Ular jantan relatif lebih panjang dibandingkan ular betina. Susunan perisai(sisik besar) di kepalanya, yang masih kecil berwarna lebih gelap atau kehitaman, dengan bintik-bintik putih atau kuning yang membentuk belang(garis) melintang, belang ini masih samar-samar pada individu dewasa. Anak ular ini berkepala hitam dengan empat garis putih melintang di atasnya. Kepalanya besar dengan moncong yang relatif pendek dan tumpul. Di belakang perisai parietal(ubun-ubun), yang pada ular lain biasanya sisik-sisik kecil, pada ular ini ditempati oleh sepasang perisai oksipital yang besar. Perisai labial (bibir) atas 7 buah, no-3 dan no-4 menyentuh mata. Pupil mata bundar dan besar. Sisik-sisik dorsal (punggung) dalam 15 deret di tengah badan. Sisik-sisik ventral(perut) 215-262 buah sisik anal tunggal, sisik-sisik subkaudal (bawah ekor) 80-120 buah, yang sebelah depan tunggal dan di bagian belakang berpasangan. Ular ini didapati mulai dekat pantai hingga ketinggian sekurang-kurangnya 1800m dpl.

Ular ini menghuni aneka habitat, mulai dataran rendah, rawa-rawa, wilayah semak belukar, hutan pegunungan, lahan pertanian, ladang tua, perkebunan, persawahan, dan lingkungan pemukiman. Ular yang lincah dan gesit ini biasanya bersembunyi di bawah lindungan semak yang padat, lubang-lubang di akar atau batang pohon, lubang tanah, di bawah tumpukan batu, atau di rekahan karang. Mangsa sesuai dengan namanya ophiophagus(pemakan ular), mangsa utamanya adalah jenis-jenis ular yang berukuran relatif besar, seperti python dan ular tikus. Ular ini mengandalkan penciumannya menggunakan lidahnya yang bercabang , yang menangkap partikel-partikel bau di udara dan membawanya ke reseptor khusus di langit-langit mulutnya. Reseptor yang sensitif terhadap bau ini disebut organ jacobson. Jika tercium bau mangsanya, ular ini akan menggetarkan lidahnya dan menariknya keluar masuk untuk memperkirakan arah dan letak mangsanya itu. Matanya yang tajam (ular ini dapat melihat mangsanya dari sejauh 100m), indera perasa getaran di tubuhnya yang melata di tanah, dan naluri serta kecerdasannya sangat membantu untuk menemukan mangsanya.

Ular ini dapat bergerak cepat di atas tanah dan memanjat pohon dengan sama baiknya. Mangsanya, jika perlu dikejarnya di atas pohon.ular ini berburu dengan baik di siang hari dan malam hari, kebanyakan herpetologis menanggapnya sebagai hewan diurnal. Sebagaimana ular kobra pada umumnya, apabila merasa terancam dan tersudut ular ini akan menegakkan lehernya serta mengembangkan tulang rusuknya sehingga kurang lebih sepertiga bagian tubuhnya berdiri tegak dan memipih serupa spatula. Sekaligus, posisi ini akan menampakkan warna kuning dan coret hitam di dadanya, sebagai peringatan bagi musuhnya. Melihat postur tubuhnya ini dan gerakannya yang gesit tangkas, orang umumnya merasa takut dan menganggapnya sebagai ular yang agresif serta berbahaya, yang dapat menyerang mangsa .

Patarsono

About Patarsono -

Author Description here.. Nulla sagittis convallis. Curabitur consequat. Quisque metus enim, venenatis fermentum, mollis in, porta et, nibh. Duis vulputate elit in elit. Mauris dictum libero id justo.

Subscribe to this Blog via Email :