26 December 2015

Patarsono Tinambunan

GAMBARAN UMUM TENTANG KABUPATEN SOLOK

kota solok
Kondisi Geografis dan Sumber Ekonomi Penduduk
Kabupaten Solok adalah sebuah kabupaten yang membatasi Propinsi Sumatera Barat pada bagian selatan yaitu dengan Propinsi Jambi. Secara astronomis Kabupaten Solok terletak pada 0 32` - 1 45` LS dan 100 27` - 101 41` BT. Kabupaten Solok memiliki luas wilayah mencapai 7084,20 km2 atau mencakup 16,75 % dari total luas wilayah Sumatera Barat 42.297,30 km2.

Kabupaten Solok berbatasan sebelah utara dengan Kabupaten Tanah Datar, sebelah selatan dengan Kabupaten Pesisir Selatan dan Propinsi Jambi, sebelah barat berbatasan dengan Kotamadya Padang dan sebelah timur berbatasan dengan Kabupaten Sawahlunto/Sijunjung. Posisi ini menempatkan Kabupaten Solok menjadi daerah strategis yaitu jalan raya yang menghubungkan beberapa kota di Sumatera Barat dan Jambi seperti Padang Panjang, Padang, Sawah Lunto, Muaro Bungo, dan Sungai Penuh.

Topografi kabupaten Solok memiliki bentuk bervariasi. Bentangan alam Kabupaten Solok bagian tengah adalah daerah pegunungan dan perbukitan yang terbentang dari barat daya ke tenggara. Gunung Talang yang berada pada ketinggian 2597 meter dari permukaan laut mempertegas bahwa Kabupaten Solok adalah kabupaten yang berada pada dataran tinggi. Bukit-bukit dengan ketinggian bervariasi juga banyak dimiliki Kabupaten Solok.

Secara umum daerah-daerah yang berada di dataran tinggi di atas 1400 meter diatas permukaan laut antara Alahan Panjang hingga Sungai Nanam. Sementara daerah yang relatif landai terdapat di lereng Gunung Talang mulai dari Guguk, Batu Bajanjang, Bukit Sileh hingga ke arah utara sampai Koto Anau, Koto Laweh, Dilam, Parambahan. Selanjutnya daerah yang merupakan dataran rendah adalah Koto Baru, Muara Panas, Bukit Tandang, Kinari, Panyakalan, Selayo, Solok, Gaung, Saok Laweh, Sumani, dan Singkarak. Di bagian paling selatan Kabupaten Solok juga banyak ditemui adanya dataran rendah. Hal ini terutama daerah Sungai Pagu yang merupakan muara dari aliran Batang Suliti. Daerah bergelombang terhampar mulai dari Liki hingga Lubuk Gadang.

Kabupaten Solok memiliki empat buah danau. Danau-danau dimaksud adalah danau kembar, yaitu Danau Diatas dan Danau Dibawah. Berdekatan dengan danau tersebut terdapat pula Danau Talang. Danau Talang merupakan danau yang sangat indah dan berada jauh dari pemukiman penduduk sehingga danau ini terjaga kemolekannya. Di sekeliling Danau Talang masyarakat kebanyakan memanfaatkan tanah yang ada untuk kebun markisa.

Ketiga Danau ini berada di Kecamatan Danau Kembar, hanya sebagian Danau Diatas merupakan wilayah Kecamatan Lembah Gumanti. Danau yang keempat adalah Danau Singkarak yang sebagian masuk wilayah Kabupaten Tanah Datar. Di samping itu Solok juga mempunyai banyak sekali sungai yang sebagian besar diantaranya dimanfaatkan untuk irigasi pengairan. Sungai-sungai dimaksud adalah Sungai Batang Lembang, Sungai Batang Lolo, dan Batang Ombilin.

Berdasarkan sensus yang dilakukan pada tahun 1961, penduduk Sumatra Barat berjumlah 2.331.057 jiwa . Dari keseluruhan penduduk maka yang menempati Kabupaten Solok tahun 1961 berjumlah 278.257 jiwa. Pada tahun 1971, penduduk Kabupaten Solok bertambah menjadi 294.730 jiwa dari populasi penduduk Sumatra Barat yang berjumlah 2.770.589 jiwa. Jumlah ini lebih sedikit jika dibandingkan dengan jumlah penduduk Kabupaten Solok tahun 1970 yang berjumlah 314.727 jiwa. Pengurangan jumlah ini disebabkan berdirinya Kotamadya Solok sehingga penduduk yang awalnya termasuk sebagai penduduk Kabupaten Solok, sejak akhir tahun 1971 telah menjadi penduduk Kotamadya Solok.

Mata pencaharian penduduk mayoritas bergerak di bidang pertanian. Dari sudut penggunaan lahan, pada tahun 1996 penggunaan lahan untuk pertanian mencapai 34,44 %. Pertanian yang banyak diusahakan adalah bercocok tanam padi. Padi yang ditanami dan siap panen diolah menjadi beras. Beras yang dihasilkan oleh Kabupaten Solok merupakan komoditi unggulan. Komoditi tersebut secara luas dikenal sebagai Bareh Solok. Hal yang membedakan beras yang berasal dari Kabupaten Solok dengan produk beras yang berasal dari daerah lain adalah lebih harum, nasi yang dihasilkan terasa manis dan jika dimasak akan menghasilkan lebih banyak nasi.
Sebagaimana lazimnya budaya bermukim masyarakat Minangkabau, pada tahun 1820-an setiap lembah tertutup rapat oleh perkampungan dan di daerah lembah pada umumnya diusahakan pengolahan sawah untuk pertanian padi. Keadaan yang sama juga ditemukan di Solok, dalam catatan pendatang Eropa yang pernah mengunjungi Solok yaitu Sofia Raffles pada abad ke-18 seperti dikutip Christine Dobbin menyebutkan bahwa seluruh lembah dan dataran antara Solok dengan Singkarak merupakan hamparan budidaya, memiliki lebar sekitar 10 mil dan panjang 20 mil tertutup rapat dengan kota-kota dan desa-desa, beberapa diantaranya berderet dalam jalur yang berhubungan sepanjang beberapa mil. Bercocok tanam padi yang menjadi mata pencaharian mayoritas masyarakat Kabupaten Solok semenjak dahulu sampai sekarang.

Sektor lain yang diusahakan dalam bidang pertanian adalah tanaman sayur-sayuran. Untuk komoditi ini daerah yang memiliki ciri khas dengan tanaman sayurannya adalah daerah yang berada di sekeliing Gunung Talang seperti Bukit Sileh, Batu Bajanjang, Salayo Tanang, Sungai Nanam, Alahan Panjang dan Simpang Tanjung Nan IV. Kawasan tersebut berkembang sebagai sentra produksi sayuran yang dikonsumsi oleh penduduk Kabupaten Solok dan sekitarnya. Sayuran yang diproduksi tersebut bahkan menembus pasar luar daerah seperti Riau. Untuk jenis komoditi tertentu bahkan menembus perdagangan antar pulau seperti produk markisa yang dipasarkan sampai ke Pulau Jawa.
Kondisi tanah yang berada dekat Gunung Talang adalah jenis tanah hitam atau andosol. Tanah tersebut banyak mengandung bahan organik ph 4-6 yang sangat cocok untuk pertanian sayuran. Selain faktor tanah, iklim yang sejuk menunjang untuk tumbuh suburnya tanaman sayuran di kawasan itu.

Pendirian Balai Penelitian Tanaman (Balitan) di Sukarami dan Balai Penelitian Hortikultura (Balihor) di Aripan Kecamatan X Koto Dibawah menjadi bukti bahwa kabupaten ini layak menjadi daerah pengembangan pertanian karena merupakan daerah yang subur. Kesuburan Kabupaten Solok semenjak abad ke-17 telah dilirik oleh para partikelir asing. Pada tahun 1877 dibuka tiga perkebunan besar di Sumatra Barat. Dua dari perkebunan tersebut didirikan di Solok yaitu di Persil Surian dan Persil Kayu Kalek. Hingga tahun 1916, Solok merupakan daerah dengan jumlah perkebunan terbanyak di Sumatra Barat yaitu sebanyak 37 buah perkebunan besar. Dengan jumlah perkebunan sebanyak itu memungkinkan penduduk Solok untuk bekerja sebagai pegawai perkebunan.
Meski secara umum kegiatan perekonomian bertumpu pada sektor pertanian, namun sektor lain tetap ada yang diminati sebagai mata pencaharian dan bahkan telah menjadi sebuah ciri khas dari beberapa nagari di Solok. Nagari Sirukam di Kecamatan Payung Sekaki dikenal sebagai nagari pengrajin besi semenjak abad 18. Produk yang dihasilkan sekitar abad ke-18 adalah sejenis gembok untuk peti-peti besar yang digunakan sebagai tempat penyimpanan benda-benda berharga oleh masyarakat. Sampai sekarang kerajinan besi masih tetap menjadi pekerjaan bagi sebagian penduduk di nagari tersebut dan menjadi sebuah usaha keluarga yang diwariskan turun-temurun. Produk yang dihasilkan adalah alat-alat seperti cangkul, sabit, parang, dan pisau dapur.

Ke arah timur Kabupaten Solok, Nagari Aripan merupakan sentra pembuatan batu bata yang banyak dimanfaatkan untuk bahan bangunan perumahan. Sektor perikanan darat juga menjadi pilihan mata pencaharian bagi penduduk Nagari Koto Sani/Padang Balimbiang. Nagari tersebut menjadi terkenal dengan komiditi ini serta merupakan sentra pengembangan perikanan di Kabupaten Solok.
Sampai tahun 1971, penduduk yang memiliki mata pencaharian di sektor pertanian berjumlah 121.755 jiwa. Di samping sektor pertanian, pekerjaan lain yang digeluti oleh penduduk adalah sektor perdagangan (3.918 Jiwa), sebagai pegawai pemerintah dan swasta (3.246 Jiwa), ABRI (202 Jiwa) dan nelayan yang menangkap ikan di perairan darat seperti yang diusahakan masyarakat disekitar Danau Diateh, Danau Dibawah, dan Danau Singkarak berjumlah 665 Jiwa.

source : kusasilam

Patarsono Tinambunan

About Patarsono Tinambunan -

Author Description here.. Nulla sagittis convallis. Curabitur consequat. Quisque metus enim, venenatis fermentum, mollis in, porta et, nibh. Duis vulputate elit in elit. Mauris dictum libero id justo.

Subscribe to this Blog via Email :