26 December 2015

Patarsono Tinambunan

KONDISI SOSIAL BUDAYA KABUPATEN SOLOK

KOTA SOLOK
Berdasarkan informasi cerita rakyat dan tambo yang dikutip oleh Sjafrei Sjafei, dikatakan bahwa penduduk yang mendiami Kabupaten Solok datang dari banyak daerah asal. Mereka datang dalam berbagai gelombang di antaranya:

a. Dari Pariangan Padang Panjang ke daerah Solok yang mendiami Kubung Tigo Baleh. Perjalanan ini pada awalnya diikuti oleh 73 orang, kemudian sesampainya di Solok, mereka memecah rombongan menjadi dua. Rombongan pertama menetap di sekitar Solok sebanyak 13 orang yang kemudian menjadikan daerah tempat berpisahnya rombongan tersebut memiliki nama Kubuang Tigo Baleh. Rombongan kedua sebanyak 60 orang, sisa dari rombongan tersebut kemudian melanjutkan perjalanan ke arah selatan menuju Sungai Pagu dan Sangir. Namun setibanya di Sungai Nanam, satu orang dari rombongan yang bernama Supadeh meninggal dunia dalam perjalanan dan dikubur disana. 59 orang yang tersisa kemudian meneruskan perjalanan hingga Pasir Talang. Untuk menghormati perjalanan dan jumlah nenek moyang tersebut oleh masyarakat Pasir Talang Kecamatan Sungai Pagu didirikan Masjid Anam Puluah Kurang Aso.
b. Dari Pariangan Tanah Datar langsung menuju Solok (sebagian besar penduduk Kecamatan X Koto Diatas). Patokan dari rombongan ini adalah bergerak terus ke arah selatan dan setibanya di Batang Ombilin, mereka terus menyusuri sungai Ombilin hingga sampai di persimpangan Sungai Kolok (Sawah Lunto). Dari Sungai Kolok rombongan mendaki menuju arah barat ke Taratak Bungkuk dan Talago Bungkuk (Tanjung Balit) dan akhirnya sampai di Sulit Air dan Paninjauan. Dari Sulit Air dan Paninjauan mereka menyebar ke Kajai, Talago Gunuang, Lumindai dan Siberambang.
c. Dari daerah Batu Sangkar berjalan kearah timur dan sampai di Sijunjung. Dari Sijunjung terus ke Sungai Dareh dan menyusuri Sungai Batang Hari hingga mencapai Sangir.
d. Dari tanah Palembang, Jambi dan Bukit Siguntang-guntang menuju Sungai Dareh kemudian melanjutkan perjalan ke Sijunjung. Dari Sijunjung menyusur ke arah timur hingga sampai di Sumiso, Garabak Data, Air Luo, Kipek, Supayang dan Sungai Durian (wilayah yang ada di Kecamatan Tigo Lurah dan Kecmatan Payung Sekaki).
e. Dari daerah Kerinci yang menjadi sebagian penduduk Sangir.

Bervariasinya daerah asal kedatangan, berdampak pada munculnya keberagaman bahasa dan pelaksanaan adat istiadat. Perbedaan dialek antara nagari-nagari yang ada di Kabupaten Solok terlihat misalnya, antara Nagari Dilam yang berbatasan dengan Nagari Sirukam (tepatnya Jorong Kubang Nan Duo) dalam pengucapan “akan kemana”, di Dilam digunakan Kamano rih? sementara itu orang Sirukam menggunakan Kama du? Perbedaan dimaksud juga terdapat antara dialek Sangir dengan Surian, Sulit Air dengan Singkarak, dan Koto Baru dengan Guguk.
Perbedaan juga terlihat dari arsitektur rumah gadang yang berkembang di Solok. Pada bagian timur seperti nagari-nagari yang berdekatan dengan Tanah Datar, arsitektur rumah gadang yang berkembang adalah bercorak Koto Piliang dengan ruangan yang dibuat lebih tinggi mengapit ruangan bagian tengah. Dalam bahasa sehari-hari ruangan yang ditinggikan tersebut lebih sering disebut sebagai anjuang. Nagari-nagari yang mendapat pengaruh ajaran Datuak Katumanggungan seperti Selayo, Koto Baru, Singkarak, Sumani, Aripan, Sulit Air, Tanjung Alai, Katialo, dan Pianggu.
Arsitektur rumah gadang yang memiliki lantai datar dari ujung hingga pangkal mendapat pengaruh ajaran Datuak Parpatiah Nan Sabatang. Rumah adat dengan ciri seperti ini akan banyak dijumpai di nagari Dilam, Parambahan, Kinari, Muaropaneh, Sirukam, Supayang, Batu Bajanjang, Sumiso, Rangkiang Luluih, Garabak Data, Bukit Tandang, Koto Anau, Limau Lunggo, Batu Banyak, Koto Laweh, Bukit Sileh, Alahan Panjang, Simpang Tanjuang Nan IV, dan Sungai Nanam.
Sementara pada bagian selatan, Muara Labuh dan Sangir, arsitektur yang berkembang adalah gabungan keduanya. Sebagian rumah gadang memiliki anjuang sementara rumah gadang yang lain bercirikan lantai datar. Meski demikian, justru di daerah bagian selatan ini rumah gadang masih banyak ditemukan terutama di Nagari Pasir Talang Kecamatan Sungai Pagu.
Secara umum, model bangunan rumah gadang tidak lagi menjadi pilihan masyarakat, untuk mendirikan bangunan baru masyarakat lebih memilih bangunan dengan konstruksi beton. Pilihan tersebut adalah berdasarkan perhitungan ekonomis karena untuk membangun sebuah rumah gadang yang baru dibutuhkan biaya yang tidak sedikit sehingga masyarakat lebih memilih bangunan beton yang lebih ekonomis.
Penduduk Kabupaten Solok mayoritas menganut agama Islam. Sampai akhir tahun 1970, penduduk yang menganut agama Islam berjumlah 314.687 orang. Jumlah masjid yang ada di Kabupaten Solok pada tahun 1971 adalah sebanyak 244 buah masjid dan 1.136 surau/langgar. Besarnya jumlah ini berkaitan erat dengan kebiasaan masyarakat yang tidak hanya memanfaatkan masjid, surau/langgar sebagai tempat peribadatan, melainkan juga sebagai gedung pertemuan atau tempat musyawarah untuk mencari mufakat.
Sementara agama lain yang dianut adalah agama Kristen. Penganut Protestan berjumlah 19 orang yang tersebar di Kecamatan X Koto Diatas 1 orang, Kecamatan Gunung Talang 6 orang , Kecamatan Sungai Pagu 7 orang dan di Kecamatan Sangir sebanyak 5 orang. Penganut Katholik berjumlah 9 orang dan semua penganut Katholik ini sampai akhir tahun 1970 hanya ada di Kecamatan Gunung Talang. Sementara itu agama lain yang dianut adalah agama Budha dengan jumlah penganut 9 orang. Penganut agama Budha baru ada di Kecamatan Pantai Cermin. Adapun penduduk yang menganut agama selain Agama Islam merupakan penduduk yang berasal dari luar daerah yang kebanyakan adalah etnis Batak dan Etnis keturunan Cina.
C. Kondisi Pemerintahan
Pembacaan Proklamasi tanggal 17 Agustus 1945 oleh dua putra terbaik bangsa yaitu Sukarno dan Muhammad Hatta di jalan Pegangsaan Timur nomor 56 merupakan sebuah pernyataan kemerdekaan dari keseluruhan bangsa Indonesia. Dua tokoh yang kemudian dikenal sebagai Dwitunggal ini merupakan representasi dari keseluruhan rakyat Indonesia, Sukarno mewakili Jawa dan Muhammad Hatta merupakan wakil yang berasal dari luar Jawa. Hal ini memperlihatkan bahwa setidaknya ada dua polarisasi besar yang ada di Indonesia di awal-awal kemerdekaan yaitu Jawa dan luar Jawa.
Berita kemerdekaan terus meluas ke seluruh pelosok tanah air yang disebarluaskan melalui berita radio. Dari berita radio tersebut, sebagian masyarakat Solok mendengar berita proklamasi kemerdekaan, dan seterusnya berita kemerdekaan terus menyebar luas melalui informasi dari mulut ke mulut sebab tidak semua masyarakat dapat menikmati fasilitas radio, karena pada masa itu radio adalah sebuah barang mewah dan hanya beberapa orang yang mampu menikmatinya. Akibat minimnya fasilitas radio, banyak juga nagari-nagari yang ada di Kabupaten Solok terlambat menerima berita kemerdekaan seperti Nagari Pianggu Sungai Lasi, Nagari Talang, Cupak, Sulit Air dan begitu juga nagari-nagari lain yang lebih terisolasi.
Upaya menata pemerintahan setelah proklamasi mulai dilakukan. Untuk sementara negara Indonesia dibagi menjadi 8 propinsi dan 10 Keresidenan. Keresidenan Sumatra Barat membawahi 8 Luhak dan 21 Kewedanaan, adapun Solok merupakan salah satu luhak dari 8 Luhak yang dibentuk dengan 4 buah kewedanaan yaitu Kewedanaan Solok, Kewedanaan Sijunjung, Kewedanaan Alahan Panjang dan Kewedanaan Muara Labuh. Usaha menata pemerintahan terus dilakukan, namun di tengah usaha tersebut Agresi Militer II Belanda berlangsung, DPRST dalam sidang yang dilakukannya tanggal 18 Desember memutuskan untuk membekukan sementara pemerintahan sipil di Sumatra Barat.
Pemerintah dan masyarakat Solok aktif dalam perjuangan kemerdekaan Indonesia ketika Belanda melancarkan agresi militer. Pada tanggal 19 Desember 1948 Belanda melancarkan Agresi Militer Kedua, hampir semua pemimpin Ibukota menjadi tawanan Belanda. Dalam strategi itulah Menteri Kemakmuran Rakyat Mr. Syafruddin Prawiranegara yang tengah berada di Bukittinggi bersama dengan tokoh-tokoh Republik yang ada di Sumatra, berhasil membentuk Pemerintahan Darurat Republik Indonesia pada tanggal 22 Desember 1948 pada jam 03.40 dan memproklamirkan berdirinya PDRI. Pemerintahan ini berlangsung secara mobil dimulai dari Halaban Payakumbuh dan berakhir di Bidar Alam.
Dalam situasi pemerintahan darurat itu dibutuhkan dukungan dari segenap lapisan masyarakat dan dukungan yang tidak kalah penting selain dukungan penuh dari masyarakat terhadap upaya mempertahankan kemerdekaan adalah peranan militer. Pemimpin, militer dan penduduk yang mendukung perjuangan adalah sebuah kolaborasi yang kuat dalam upaya menyelamatkan negara yang berupaya dihancurkan oleh pihak agresor Belanda.
Pada saat pemerintah darurat memilih berpusat di Bidar Alam, kesatuan militer yang mengawal Perdana Menteri Syafruddin Prawiranegara dan rombongan adalah Resimen III/Kuranji yang memiliki markas di Alahan Panjang di bawah komando Mayor Ahmad Husein. Pengalaman bertugas di Solok menjadikan Husein mengenal daerah ini dengan baik dan kelak ketika terdesak operasi militer APRI untuk menumpas PRRI, Husein memilih mengungsi di pedalaman Solok.
Pemerintahan Militer pun tidak luput dari usaha untuk menata ulang pemerintahan di Sumatra Barat. Instruksi Gubernur Militer Sumatra Barat No. 10/GM/ST/49 tetap mengakui keberadaan 8 luhak yang ada, namun ada perubahan dalam hal penamaan serta luas teritorialnya. Kabupaten Solok yang sebelumnya bernama Luhak Solok menjadi berkurang luas teritorialnya karena Kewedanaan Sijunjung berkembang menjadi Kabupaten Sawahlunto/Sijunjung.
Pada awal Januari tahun 1950 Pemerintahan Militer Sumatra Tengah dihapuskan, namun jalannya pemerintahan masih belum lancar karena adanya konflik internal antara pihak legislatif dengan eksekutif di Sumatra Tengah. Pemerintah pusat mengeluarkan peraturan pemerintah pengganti undang-undang (Perpu) No. 4/1950 yang ditetapkan pada tanggal 14 Agustus 1950 tentang pembentukan Propinsi Sumatra Tengah, namun pembagian administratif tidak diatur secara tegas sehingga pemerintah daerah tetap melanjutkan jumlah dan format kabupaten yang lama, yakni berdasarkan Instruksi Gubernur Militer Sumatera Barat No. 10/1948. Dengan demikian Solok tetap menjadi sebuah Kabupaten.
Perkembangan adminstrasi Pemerintah selanjutnya, pemerintah Kabupaten Solok dibentuk berdasarkan Undang Undang No. 12 tahun 1956 tentang pembentukan daerah otonom setingkat kabupaten dalam lingkungan Propinsi Sumatera Tengah. Pada awal pembentukannya, Kabupaten Solok semula terdiri 12 Kecamatan dan 83 Nagari. Perkembangan pemerintahan membawa akibat kepada perubahan-perubahan posisi kepala daerah. Pengalihan jabatan bupati yang khas adalah ketika terjadinya pergolakan, jabatan Bupati Solok yang sebelumnya dipegang oleh Nurdin Dt. Madjo Sati kemudian berdasarkan penunjukan oleh RTP III untuk sementara diberikan kepada Wedana Bagindo Abdul Murad. Selanjutnya pada tanggal 17 September 1958, koordinator pemerintahan sipil Sumatra Barat mengangkat Buyung Dt. Gadang Bandaro sebagai Bupati Solok.
Perkembangan adminstrasi Pemerintah selanjutnya, pemerintah Kabupaten Solok dibentuk berdasarkan Undang Undang No. 12 tahun 1956 tentang pembentukan daerah otonom setingkat kabupaten dalam lingkungan Propinsi Sumatera Tengah. Pada awal pembentukannya, Kabupaten Solok semula terdiri 12 Kecamatan dan 83 Nagari. Dalam UU ini dinyatakan bahwa pusat pemerintahan kabupaten Solok berada di Solok, salah satu nagari dalam kabupaten Solok.
Pada tahun 1970, berdasarkan peraturan Menteri Dalam Negeri No. 8/1970 ibukota Kabupaten Solok ini berubah status menjadi Kotamadya, sehingga pusat pemerintahan kabupaten Solok berada dalam wilayah pemerintahan Kotamadya Solok. Kemudian pada era reformasi, Kabupaten Solok kembali mendapat pemekaran dengan lahirnya Kabupaten Solok Selatan, dimana Kabupaten Solok Selatan berasal dari sebagian wilayah Kabupaten Solok yang terdiri atas Kecamatan Sangir Batang Hari, Kecamatan Sangir Jujuan, Kecamatan Sangir, Kecamatan Sungai Pagu, Kecamatan Koto Parik Gadang Diateh. Sebagai konsekuensi dari pemekaran ini, jumlah kecamatan di Kabupaten Solok pada tahun 2001 hanya tinggal 14 kecamatan serta dari 86 nagari berkurang menjadi 74 nagari.

SOURCE : KUSASILAM

Patarsono Tinambunan

About Patarsono Tinambunan -

Author Description here.. Nulla sagittis convallis. Curabitur consequat. Quisque metus enim, venenatis fermentum, mollis in, porta et, nibh. Duis vulputate elit in elit. Mauris dictum libero id justo.

Subscribe to this Blog via Email :