09 September 2018

Taksonomi Dan Identifikasi Biawak

Inilah Taksonomi / Klasifikasi dan Identifikasi Biawak :

          Kingdom: Animalia
          Filum: Chordata
          Kelas: Sauropsida
          Ordo: Squamata
          Subordo: Scleroglossa
          Infraordo: Anguimorpha
          Superfamili: Varanoidea
          Famili: Varanidae
          Genus: Varanus
           Species      :
  • Varanus nebulosus (Clouded Monitor) --> Jawa Timur
  • Varanus dumerilii (Dumeril's Monitor) --> Sumatera & Kalimantan
Habitat Biawak dan Kebiasaan hidupnya :

Biawak biasanya mendiami tepi sungai atau saluran air, tepian danau, pantai, dan rawa-rawa termasuk rawa bakau.
Di perkotaan, biawak sering ditemukan  di gorong-gorong saluran air yang bermuara ke sungai.
Biawak memangsa aneka serangga, ketam atau yuyu, berbagai jenis kodok, ikan, kadal, burung, serta mamalia kecil seperti tikus dan cerurut. Biawak pandai memanjat pohon. Di hutan bakau, biawak kerap mencuri telur atau memangsa anak burung. Biawak juga memakan bangkai, telur kura-kura, penyu atau buaya.



19 January 2016

27 Pejabat Struktural Kabupaten Pakpak Bharat Mengundurkan Diri

Pj. Bupati Pak-pak Bharat
7 Pejabat Struktural Kabupaten Pakpak Bharat mengajukan Surat Pengunduran Diri Kepada Pj Bupati Bonar Sirait di Salak, pada hari Juma, 15 Januari 2016. Pejabat dimaksud adalah  Satuan Kerja Perangkat Daerah (SKPD), kepala badan dan kepala di­nas hingga inspektur, pejabat se­ting­kat eselon III level direktur rumah sakit dan camat.

Di antara pejabat  yang mundur itu, tertera nama Parlaungan Lum­bantoruan Ke­pala Dinas Pekerjaan Umum, Manurung Naiborhu Kepa­la Dinas Tenaga Kerja Sosial dan Tran­­smigrasi, Inspektur Budi­anta Pi­­nem, Sahat Banurea Kepala Ba­dan Ke­pegawaian Daerah, Sartono Padang Kepala BPBD, Sunardi Plt Kepala BP4KD dan Sabar Berutu Camat Sitellu Tali Urang Jehe, dan lain-lain.

Alasan pengunduran diri sesuai surat, bekerja tidak nya­man. Dan setelah dikonfirmasi,
Pj Bupati Bonar Sirait mem­benar­­kan, menerima surat ter­sebut

Diutarakan, alasan pejabat eselon tidak nyaman. Ke­mung­kinan, kata Bonar, gaya kepemim­pinannya sukar dite­rima. Dan untuk mengatasi hal tersebut Dia beren­cana, meng­ang­kat pelaksana tugas job lowong pekan depan, dan Pengunduran diri 27 pejabat struktural Kabupaten Pakpak Bharat telah dilaporkan Pj Bupati Bonar Sirait kepada Sekda Sumut Hasban Ritonga, pada hari Sabtu 16 Januari 2016 di Medan.

Diakui, selama mengemban amanah, dia berupaya mene­rapkan transparansi dan akun­tabilitas anggaran. Jangan sam­pai, sete­lah masa tugas berakhir, justru dipanggil polisi atau jaksa lantaran anggaran.
Dia kembali mengulangi atensi terkait mutu proyek. Di antaranya hotmix pelataran Kantor Bupati di Salak.
Menurutnya kurang bagus, bahkan di­kerjakan malam hari per januari ini. Kunju­ngan ke pengaspalan jalan menghu­bungkan Salak-Kecupak Keca­matan Pergetteng-Getteng Seng­kut dilakukan dan hasilnya, terkesan kurang bagus dan belum juga tuntas. Rancangan anggaran biaya (RAB) semua kegiatan termasuk pembangunan jalan menghubungkan Desa Lagan-Sibagindar Kecamatan Pagindar bolak-balik diminta kepada Kepala Dinas PU Parlaungan Lumbantoruan, tetapi tak dise­rahkan.
Padahal, Badan Pemeriksa Keuangan dan Pembangunan (BPKP) sudah mengeluarkan hasil perhitungan dan diduga banyak penyimpangan.

“Itukan hak saya mendapatkan dokumen. Pj Bupati adalah pe­nanggungjawab umum seluruh kegiatan. Jadi, wajib tahu. RAB adalah bahan pembanding pelaksa­naan lapangan dan kon­trak. Ini demi keselamatan bersama. Saya tidak mau esok hari dipanggil jaksa atau polisi lagi,” kata Bonar.
Manurung Naiboru membe­narkan, dirinya adalah 1 dari 27 pejabat struktural atau pimpinan SKPD yang mengajukan pe­ngunduran diri, Jumat (15/1). Diterangkan, sebagai Kepala Dinas Tenaga Kerja Sosial dan Transmigrasi, usulan pencairan bantuan sosial (bansos) kepada lansia dan pe­nyandang cacat untuk semester 2 sudah kali dimajukan. Ada pertemuan dan diskusi de­ngan pimpinan. Tanpa alasan jelas dan tanpa petunjuk, kegiatan tak dapat dilaksanakan. Padahal, anggaran ditampung di APBD 2015 dimana realisasi semester pertama telah berjalan.

“Secara umum, kami merasa tidak diayo­mi. Kami merasa tidak nyaman,” kata Manurung per telepon, Minggu (17/11). Ditanya tentang inventaris kendaraan dinas, diakui, masih dipakai sambil menunggu proses. Ditanya lagi apakah berkeinginan dilantik menjadi pimpinan SKPD pada periode Bupati mendatang, Manurung enggan menjawab.

 source : http://analisadaily.com/sumut/news/pengunduran-pejabat-dilapor-ke-sekda-sumut/206325/2016/01/18
http://analisadaily.com/sumut/news/puluhan-pejabat-pakpak-bharat-mengundurkan-diri/205807/2016/01/16#.VplifD8hmqI.facebook

26 December 2015

KONDISI SOSIAL BUDAYA KABUPATEN SOLOK

KOTA SOLOK
Berdasarkan informasi cerita rakyat dan tambo yang dikutip oleh Sjafrei Sjafei, dikatakan bahwa penduduk yang mendiami Kabupaten Solok datang dari banyak daerah asal. Mereka datang dalam berbagai gelombang di antaranya:

a. Dari Pariangan Padang Panjang ke daerah Solok yang mendiami Kubung Tigo Baleh. Perjalanan ini pada awalnya diikuti oleh 73 orang, kemudian sesampainya di Solok, mereka memecah rombongan menjadi dua. Rombongan pertama menetap di sekitar Solok sebanyak 13 orang yang kemudian menjadikan daerah tempat berpisahnya rombongan tersebut memiliki nama Kubuang Tigo Baleh. Rombongan kedua sebanyak 60 orang, sisa dari rombongan tersebut kemudian melanjutkan perjalanan ke arah selatan menuju Sungai Pagu dan Sangir. Namun setibanya di Sungai Nanam, satu orang dari rombongan yang bernama Supadeh meninggal dunia dalam perjalanan dan dikubur disana. 59 orang yang tersisa kemudian meneruskan perjalanan hingga Pasir Talang. Untuk menghormati perjalanan dan jumlah nenek moyang tersebut oleh masyarakat Pasir Talang Kecamatan Sungai Pagu didirikan Masjid Anam Puluah Kurang Aso.
b. Dari Pariangan Tanah Datar langsung menuju Solok (sebagian besar penduduk Kecamatan X Koto Diatas). Patokan dari rombongan ini adalah bergerak terus ke arah selatan dan setibanya di Batang Ombilin, mereka terus menyusuri sungai Ombilin hingga sampai di persimpangan Sungai Kolok (Sawah Lunto). Dari Sungai Kolok rombongan mendaki menuju arah barat ke Taratak Bungkuk dan Talago Bungkuk (Tanjung Balit) dan akhirnya sampai di Sulit Air dan Paninjauan. Dari Sulit Air dan Paninjauan mereka menyebar ke Kajai, Talago Gunuang, Lumindai dan Siberambang.
c. Dari daerah Batu Sangkar berjalan kearah timur dan sampai di Sijunjung. Dari Sijunjung terus ke Sungai Dareh dan menyusuri Sungai Batang Hari hingga mencapai Sangir.
d. Dari tanah Palembang, Jambi dan Bukit Siguntang-guntang menuju Sungai Dareh kemudian melanjutkan perjalan ke Sijunjung. Dari Sijunjung menyusur ke arah timur hingga sampai di Sumiso, Garabak Data, Air Luo, Kipek, Supayang dan Sungai Durian (wilayah yang ada di Kecamatan Tigo Lurah dan Kecmatan Payung Sekaki).
e. Dari daerah Kerinci yang menjadi sebagian penduduk Sangir.

Bervariasinya daerah asal kedatangan, berdampak pada munculnya keberagaman bahasa dan pelaksanaan adat istiadat. Perbedaan dialek antara nagari-nagari yang ada di Kabupaten Solok terlihat misalnya, antara Nagari Dilam yang berbatasan dengan Nagari Sirukam (tepatnya Jorong Kubang Nan Duo) dalam pengucapan “akan kemana”, di Dilam digunakan Kamano rih? sementara itu orang Sirukam menggunakan Kama du? Perbedaan dimaksud juga terdapat antara dialek Sangir dengan Surian, Sulit Air dengan Singkarak, dan Koto Baru dengan Guguk.
Perbedaan juga terlihat dari arsitektur rumah gadang yang berkembang di Solok. Pada bagian timur seperti nagari-nagari yang berdekatan dengan Tanah Datar, arsitektur rumah gadang yang berkembang adalah bercorak Koto Piliang dengan ruangan yang dibuat lebih tinggi mengapit ruangan bagian tengah. Dalam bahasa sehari-hari ruangan yang ditinggikan tersebut lebih sering disebut sebagai anjuang. Nagari-nagari yang mendapat pengaruh ajaran Datuak Katumanggungan seperti Selayo, Koto Baru, Singkarak, Sumani, Aripan, Sulit Air, Tanjung Alai, Katialo, dan Pianggu.
Arsitektur rumah gadang yang memiliki lantai datar dari ujung hingga pangkal mendapat pengaruh ajaran Datuak Parpatiah Nan Sabatang. Rumah adat dengan ciri seperti ini akan banyak dijumpai di nagari Dilam, Parambahan, Kinari, Muaropaneh, Sirukam, Supayang, Batu Bajanjang, Sumiso, Rangkiang Luluih, Garabak Data, Bukit Tandang, Koto Anau, Limau Lunggo, Batu Banyak, Koto Laweh, Bukit Sileh, Alahan Panjang, Simpang Tanjuang Nan IV, dan Sungai Nanam.
Sementara pada bagian selatan, Muara Labuh dan Sangir, arsitektur yang berkembang adalah gabungan keduanya. Sebagian rumah gadang memiliki anjuang sementara rumah gadang yang lain bercirikan lantai datar. Meski demikian, justru di daerah bagian selatan ini rumah gadang masih banyak ditemukan terutama di Nagari Pasir Talang Kecamatan Sungai Pagu.
Secara umum, model bangunan rumah gadang tidak lagi menjadi pilihan masyarakat, untuk mendirikan bangunan baru masyarakat lebih memilih bangunan dengan konstruksi beton. Pilihan tersebut adalah berdasarkan perhitungan ekonomis karena untuk membangun sebuah rumah gadang yang baru dibutuhkan biaya yang tidak sedikit sehingga masyarakat lebih memilih bangunan beton yang lebih ekonomis.
Penduduk Kabupaten Solok mayoritas menganut agama Islam. Sampai akhir tahun 1970, penduduk yang menganut agama Islam berjumlah 314.687 orang. Jumlah masjid yang ada di Kabupaten Solok pada tahun 1971 adalah sebanyak 244 buah masjid dan 1.136 surau/langgar. Besarnya jumlah ini berkaitan erat dengan kebiasaan masyarakat yang tidak hanya memanfaatkan masjid, surau/langgar sebagai tempat peribadatan, melainkan juga sebagai gedung pertemuan atau tempat musyawarah untuk mencari mufakat.
Sementara agama lain yang dianut adalah agama Kristen. Penganut Protestan berjumlah 19 orang yang tersebar di Kecamatan X Koto Diatas 1 orang, Kecamatan Gunung Talang 6 orang , Kecamatan Sungai Pagu 7 orang dan di Kecamatan Sangir sebanyak 5 orang. Penganut Katholik berjumlah 9 orang dan semua penganut Katholik ini sampai akhir tahun 1970 hanya ada di Kecamatan Gunung Talang. Sementara itu agama lain yang dianut adalah agama Budha dengan jumlah penganut 9 orang. Penganut agama Budha baru ada di Kecamatan Pantai Cermin. Adapun penduduk yang menganut agama selain Agama Islam merupakan penduduk yang berasal dari luar daerah yang kebanyakan adalah etnis Batak dan Etnis keturunan Cina.
C. Kondisi Pemerintahan
Pembacaan Proklamasi tanggal 17 Agustus 1945 oleh dua putra terbaik bangsa yaitu Sukarno dan Muhammad Hatta di jalan Pegangsaan Timur nomor 56 merupakan sebuah pernyataan kemerdekaan dari keseluruhan bangsa Indonesia. Dua tokoh yang kemudian dikenal sebagai Dwitunggal ini merupakan representasi dari keseluruhan rakyat Indonesia, Sukarno mewakili Jawa dan Muhammad Hatta merupakan wakil yang berasal dari luar Jawa. Hal ini memperlihatkan bahwa setidaknya ada dua polarisasi besar yang ada di Indonesia di awal-awal kemerdekaan yaitu Jawa dan luar Jawa.
Berita kemerdekaan terus meluas ke seluruh pelosok tanah air yang disebarluaskan melalui berita radio. Dari berita radio tersebut, sebagian masyarakat Solok mendengar berita proklamasi kemerdekaan, dan seterusnya berita kemerdekaan terus menyebar luas melalui informasi dari mulut ke mulut sebab tidak semua masyarakat dapat menikmati fasilitas radio, karena pada masa itu radio adalah sebuah barang mewah dan hanya beberapa orang yang mampu menikmatinya. Akibat minimnya fasilitas radio, banyak juga nagari-nagari yang ada di Kabupaten Solok terlambat menerima berita kemerdekaan seperti Nagari Pianggu Sungai Lasi, Nagari Talang, Cupak, Sulit Air dan begitu juga nagari-nagari lain yang lebih terisolasi.
Upaya menata pemerintahan setelah proklamasi mulai dilakukan. Untuk sementara negara Indonesia dibagi menjadi 8 propinsi dan 10 Keresidenan. Keresidenan Sumatra Barat membawahi 8 Luhak dan 21 Kewedanaan, adapun Solok merupakan salah satu luhak dari 8 Luhak yang dibentuk dengan 4 buah kewedanaan yaitu Kewedanaan Solok, Kewedanaan Sijunjung, Kewedanaan Alahan Panjang dan Kewedanaan Muara Labuh. Usaha menata pemerintahan terus dilakukan, namun di tengah usaha tersebut Agresi Militer II Belanda berlangsung, DPRST dalam sidang yang dilakukannya tanggal 18 Desember memutuskan untuk membekukan sementara pemerintahan sipil di Sumatra Barat.
Pemerintah dan masyarakat Solok aktif dalam perjuangan kemerdekaan Indonesia ketika Belanda melancarkan agresi militer. Pada tanggal 19 Desember 1948 Belanda melancarkan Agresi Militer Kedua, hampir semua pemimpin Ibukota menjadi tawanan Belanda. Dalam strategi itulah Menteri Kemakmuran Rakyat Mr. Syafruddin Prawiranegara yang tengah berada di Bukittinggi bersama dengan tokoh-tokoh Republik yang ada di Sumatra, berhasil membentuk Pemerintahan Darurat Republik Indonesia pada tanggal 22 Desember 1948 pada jam 03.40 dan memproklamirkan berdirinya PDRI. Pemerintahan ini berlangsung secara mobil dimulai dari Halaban Payakumbuh dan berakhir di Bidar Alam.
Dalam situasi pemerintahan darurat itu dibutuhkan dukungan dari segenap lapisan masyarakat dan dukungan yang tidak kalah penting selain dukungan penuh dari masyarakat terhadap upaya mempertahankan kemerdekaan adalah peranan militer. Pemimpin, militer dan penduduk yang mendukung perjuangan adalah sebuah kolaborasi yang kuat dalam upaya menyelamatkan negara yang berupaya dihancurkan oleh pihak agresor Belanda.
Pada saat pemerintah darurat memilih berpusat di Bidar Alam, kesatuan militer yang mengawal Perdana Menteri Syafruddin Prawiranegara dan rombongan adalah Resimen III/Kuranji yang memiliki markas di Alahan Panjang di bawah komando Mayor Ahmad Husein. Pengalaman bertugas di Solok menjadikan Husein mengenal daerah ini dengan baik dan kelak ketika terdesak operasi militer APRI untuk menumpas PRRI, Husein memilih mengungsi di pedalaman Solok.
Pemerintahan Militer pun tidak luput dari usaha untuk menata ulang pemerintahan di Sumatra Barat. Instruksi Gubernur Militer Sumatra Barat No. 10/GM/ST/49 tetap mengakui keberadaan 8 luhak yang ada, namun ada perubahan dalam hal penamaan serta luas teritorialnya. Kabupaten Solok yang sebelumnya bernama Luhak Solok menjadi berkurang luas teritorialnya karena Kewedanaan Sijunjung berkembang menjadi Kabupaten Sawahlunto/Sijunjung.
Pada awal Januari tahun 1950 Pemerintahan Militer Sumatra Tengah dihapuskan, namun jalannya pemerintahan masih belum lancar karena adanya konflik internal antara pihak legislatif dengan eksekutif di Sumatra Tengah. Pemerintah pusat mengeluarkan peraturan pemerintah pengganti undang-undang (Perpu) No. 4/1950 yang ditetapkan pada tanggal 14 Agustus 1950 tentang pembentukan Propinsi Sumatra Tengah, namun pembagian administratif tidak diatur secara tegas sehingga pemerintah daerah tetap melanjutkan jumlah dan format kabupaten yang lama, yakni berdasarkan Instruksi Gubernur Militer Sumatera Barat No. 10/1948. Dengan demikian Solok tetap menjadi sebuah Kabupaten.
Perkembangan adminstrasi Pemerintah selanjutnya, pemerintah Kabupaten Solok dibentuk berdasarkan Undang Undang No. 12 tahun 1956 tentang pembentukan daerah otonom setingkat kabupaten dalam lingkungan Propinsi Sumatera Tengah. Pada awal pembentukannya, Kabupaten Solok semula terdiri 12 Kecamatan dan 83 Nagari. Perkembangan pemerintahan membawa akibat kepada perubahan-perubahan posisi kepala daerah. Pengalihan jabatan bupati yang khas adalah ketika terjadinya pergolakan, jabatan Bupati Solok yang sebelumnya dipegang oleh Nurdin Dt. Madjo Sati kemudian berdasarkan penunjukan oleh RTP III untuk sementara diberikan kepada Wedana Bagindo Abdul Murad. Selanjutnya pada tanggal 17 September 1958, koordinator pemerintahan sipil Sumatra Barat mengangkat Buyung Dt. Gadang Bandaro sebagai Bupati Solok.
Perkembangan adminstrasi Pemerintah selanjutnya, pemerintah Kabupaten Solok dibentuk berdasarkan Undang Undang No. 12 tahun 1956 tentang pembentukan daerah otonom setingkat kabupaten dalam lingkungan Propinsi Sumatera Tengah. Pada awal pembentukannya, Kabupaten Solok semula terdiri 12 Kecamatan dan 83 Nagari. Dalam UU ini dinyatakan bahwa pusat pemerintahan kabupaten Solok berada di Solok, salah satu nagari dalam kabupaten Solok.
Pada tahun 1970, berdasarkan peraturan Menteri Dalam Negeri No. 8/1970 ibukota Kabupaten Solok ini berubah status menjadi Kotamadya, sehingga pusat pemerintahan kabupaten Solok berada dalam wilayah pemerintahan Kotamadya Solok. Kemudian pada era reformasi, Kabupaten Solok kembali mendapat pemekaran dengan lahirnya Kabupaten Solok Selatan, dimana Kabupaten Solok Selatan berasal dari sebagian wilayah Kabupaten Solok yang terdiri atas Kecamatan Sangir Batang Hari, Kecamatan Sangir Jujuan, Kecamatan Sangir, Kecamatan Sungai Pagu, Kecamatan Koto Parik Gadang Diateh. Sebagai konsekuensi dari pemekaran ini, jumlah kecamatan di Kabupaten Solok pada tahun 2001 hanya tinggal 14 kecamatan serta dari 86 nagari berkurang menjadi 74 nagari.

SOURCE : KUSASILAM

GAMBARAN UMUM TENTANG KABUPATEN SOLOK

kota solok
Kondisi Geografis dan Sumber Ekonomi Penduduk
Kabupaten Solok adalah sebuah kabupaten yang membatasi Propinsi Sumatera Barat pada bagian selatan yaitu dengan Propinsi Jambi. Secara astronomis Kabupaten Solok terletak pada 0 32` - 1 45` LS dan 100 27` - 101 41` BT. Kabupaten Solok memiliki luas wilayah mencapai 7084,20 km2 atau mencakup 16,75 % dari total luas wilayah Sumatera Barat 42.297,30 km2.

Kabupaten Solok berbatasan sebelah utara dengan Kabupaten Tanah Datar, sebelah selatan dengan Kabupaten Pesisir Selatan dan Propinsi Jambi, sebelah barat berbatasan dengan Kotamadya Padang dan sebelah timur berbatasan dengan Kabupaten Sawahlunto/Sijunjung. Posisi ini menempatkan Kabupaten Solok menjadi daerah strategis yaitu jalan raya yang menghubungkan beberapa kota di Sumatera Barat dan Jambi seperti Padang Panjang, Padang, Sawah Lunto, Muaro Bungo, dan Sungai Penuh.

Topografi kabupaten Solok memiliki bentuk bervariasi. Bentangan alam Kabupaten Solok bagian tengah adalah daerah pegunungan dan perbukitan yang terbentang dari barat daya ke tenggara. Gunung Talang yang berada pada ketinggian 2597 meter dari permukaan laut mempertegas bahwa Kabupaten Solok adalah kabupaten yang berada pada dataran tinggi. Bukit-bukit dengan ketinggian bervariasi juga banyak dimiliki Kabupaten Solok.

Secara umum daerah-daerah yang berada di dataran tinggi di atas 1400 meter diatas permukaan laut antara Alahan Panjang hingga Sungai Nanam. Sementara daerah yang relatif landai terdapat di lereng Gunung Talang mulai dari Guguk, Batu Bajanjang, Bukit Sileh hingga ke arah utara sampai Koto Anau, Koto Laweh, Dilam, Parambahan. Selanjutnya daerah yang merupakan dataran rendah adalah Koto Baru, Muara Panas, Bukit Tandang, Kinari, Panyakalan, Selayo, Solok, Gaung, Saok Laweh, Sumani, dan Singkarak. Di bagian paling selatan Kabupaten Solok juga banyak ditemui adanya dataran rendah. Hal ini terutama daerah Sungai Pagu yang merupakan muara dari aliran Batang Suliti. Daerah bergelombang terhampar mulai dari Liki hingga Lubuk Gadang.

Kabupaten Solok memiliki empat buah danau. Danau-danau dimaksud adalah danau kembar, yaitu Danau Diatas dan Danau Dibawah. Berdekatan dengan danau tersebut terdapat pula Danau Talang. Danau Talang merupakan danau yang sangat indah dan berada jauh dari pemukiman penduduk sehingga danau ini terjaga kemolekannya. Di sekeliling Danau Talang masyarakat kebanyakan memanfaatkan tanah yang ada untuk kebun markisa.

Ketiga Danau ini berada di Kecamatan Danau Kembar, hanya sebagian Danau Diatas merupakan wilayah Kecamatan Lembah Gumanti. Danau yang keempat adalah Danau Singkarak yang sebagian masuk wilayah Kabupaten Tanah Datar. Di samping itu Solok juga mempunyai banyak sekali sungai yang sebagian besar diantaranya dimanfaatkan untuk irigasi pengairan. Sungai-sungai dimaksud adalah Sungai Batang Lembang, Sungai Batang Lolo, dan Batang Ombilin.

Berdasarkan sensus yang dilakukan pada tahun 1961, penduduk Sumatra Barat berjumlah 2.331.057 jiwa . Dari keseluruhan penduduk maka yang menempati Kabupaten Solok tahun 1961 berjumlah 278.257 jiwa. Pada tahun 1971, penduduk Kabupaten Solok bertambah menjadi 294.730 jiwa dari populasi penduduk Sumatra Barat yang berjumlah 2.770.589 jiwa. Jumlah ini lebih sedikit jika dibandingkan dengan jumlah penduduk Kabupaten Solok tahun 1970 yang berjumlah 314.727 jiwa. Pengurangan jumlah ini disebabkan berdirinya Kotamadya Solok sehingga penduduk yang awalnya termasuk sebagai penduduk Kabupaten Solok, sejak akhir tahun 1971 telah menjadi penduduk Kotamadya Solok.

Mata pencaharian penduduk mayoritas bergerak di bidang pertanian. Dari sudut penggunaan lahan, pada tahun 1996 penggunaan lahan untuk pertanian mencapai 34,44 %. Pertanian yang banyak diusahakan adalah bercocok tanam padi. Padi yang ditanami dan siap panen diolah menjadi beras. Beras yang dihasilkan oleh Kabupaten Solok merupakan komoditi unggulan. Komoditi tersebut secara luas dikenal sebagai Bareh Solok. Hal yang membedakan beras yang berasal dari Kabupaten Solok dengan produk beras yang berasal dari daerah lain adalah lebih harum, nasi yang dihasilkan terasa manis dan jika dimasak akan menghasilkan lebih banyak nasi.
Sebagaimana lazimnya budaya bermukim masyarakat Minangkabau, pada tahun 1820-an setiap lembah tertutup rapat oleh perkampungan dan di daerah lembah pada umumnya diusahakan pengolahan sawah untuk pertanian padi. Keadaan yang sama juga ditemukan di Solok, dalam catatan pendatang Eropa yang pernah mengunjungi Solok yaitu Sofia Raffles pada abad ke-18 seperti dikutip Christine Dobbin menyebutkan bahwa seluruh lembah dan dataran antara Solok dengan Singkarak merupakan hamparan budidaya, memiliki lebar sekitar 10 mil dan panjang 20 mil tertutup rapat dengan kota-kota dan desa-desa, beberapa diantaranya berderet dalam jalur yang berhubungan sepanjang beberapa mil. Bercocok tanam padi yang menjadi mata pencaharian mayoritas masyarakat Kabupaten Solok semenjak dahulu sampai sekarang.

Sektor lain yang diusahakan dalam bidang pertanian adalah tanaman sayur-sayuran. Untuk komoditi ini daerah yang memiliki ciri khas dengan tanaman sayurannya adalah daerah yang berada di sekeliing Gunung Talang seperti Bukit Sileh, Batu Bajanjang, Salayo Tanang, Sungai Nanam, Alahan Panjang dan Simpang Tanjung Nan IV. Kawasan tersebut berkembang sebagai sentra produksi sayuran yang dikonsumsi oleh penduduk Kabupaten Solok dan sekitarnya. Sayuran yang diproduksi tersebut bahkan menembus pasar luar daerah seperti Riau. Untuk jenis komoditi tertentu bahkan menembus perdagangan antar pulau seperti produk markisa yang dipasarkan sampai ke Pulau Jawa.
Kondisi tanah yang berada dekat Gunung Talang adalah jenis tanah hitam atau andosol. Tanah tersebut banyak mengandung bahan organik ph 4-6 yang sangat cocok untuk pertanian sayuran. Selain faktor tanah, iklim yang sejuk menunjang untuk tumbuh suburnya tanaman sayuran di kawasan itu.

Pendirian Balai Penelitian Tanaman (Balitan) di Sukarami dan Balai Penelitian Hortikultura (Balihor) di Aripan Kecamatan X Koto Dibawah menjadi bukti bahwa kabupaten ini layak menjadi daerah pengembangan pertanian karena merupakan daerah yang subur. Kesuburan Kabupaten Solok semenjak abad ke-17 telah dilirik oleh para partikelir asing. Pada tahun 1877 dibuka tiga perkebunan besar di Sumatra Barat. Dua dari perkebunan tersebut didirikan di Solok yaitu di Persil Surian dan Persil Kayu Kalek. Hingga tahun 1916, Solok merupakan daerah dengan jumlah perkebunan terbanyak di Sumatra Barat yaitu sebanyak 37 buah perkebunan besar. Dengan jumlah perkebunan sebanyak itu memungkinkan penduduk Solok untuk bekerja sebagai pegawai perkebunan.
Meski secara umum kegiatan perekonomian bertumpu pada sektor pertanian, namun sektor lain tetap ada yang diminati sebagai mata pencaharian dan bahkan telah menjadi sebuah ciri khas dari beberapa nagari di Solok. Nagari Sirukam di Kecamatan Payung Sekaki dikenal sebagai nagari pengrajin besi semenjak abad 18. Produk yang dihasilkan sekitar abad ke-18 adalah sejenis gembok untuk peti-peti besar yang digunakan sebagai tempat penyimpanan benda-benda berharga oleh masyarakat. Sampai sekarang kerajinan besi masih tetap menjadi pekerjaan bagi sebagian penduduk di nagari tersebut dan menjadi sebuah usaha keluarga yang diwariskan turun-temurun. Produk yang dihasilkan adalah alat-alat seperti cangkul, sabit, parang, dan pisau dapur.

Ke arah timur Kabupaten Solok, Nagari Aripan merupakan sentra pembuatan batu bata yang banyak dimanfaatkan untuk bahan bangunan perumahan. Sektor perikanan darat juga menjadi pilihan mata pencaharian bagi penduduk Nagari Koto Sani/Padang Balimbiang. Nagari tersebut menjadi terkenal dengan komiditi ini serta merupakan sentra pengembangan perikanan di Kabupaten Solok.
Sampai tahun 1971, penduduk yang memiliki mata pencaharian di sektor pertanian berjumlah 121.755 jiwa. Di samping sektor pertanian, pekerjaan lain yang digeluti oleh penduduk adalah sektor perdagangan (3.918 Jiwa), sebagai pegawai pemerintah dan swasta (3.246 Jiwa), ABRI (202 Jiwa) dan nelayan yang menangkap ikan di perairan darat seperti yang diusahakan masyarakat disekitar Danau Diateh, Danau Dibawah, dan Danau Singkarak berjumlah 665 Jiwa.

source : kusasilam

25 June 2014

Klasifikasi Lebah

Klasifikasi Lebah
kLASIFIKASI LEBAH

Kingdom                 : Animalia
Phylum                        : Arthropoda
Class                                : Insecta
Ord0                                    : Hymenoptera
Family                                       : Apidea
Genus                                                :Apis
Spesies
- Apis andreniformis
- Apis cerana, lebah madu timur
- Apis dorsata, lebah madu raksasa
- Apis florae, lebah madu kerdil
- Apis mellifer, lebah madu barat

Bagian kepala terdiri dari mata, antena, dan mulut. Mata dibedakan menjadi dua yaitu mata majemuk di kedua sisi kepala dan mata dan mata sederhana di bagian dahi. Mulut terdiri dari bagian pemotong benda keras dan proboscis yang berupa belalai sebagai penghisap bagian cair seperti air, nektar, dan madu.

Dada terdiri dari empat segmen yang saling berhubungan erat, yaitu:
- Prothorax :bagian yang menopang sepasang kaki pertama.
- Mesothorax :bagian terbesar yang menopang sayap dan sepasang kaki tengah.
- Metathorax :bagian yang menopang sepasang sayap belakang dan sepasang kaki belakang.
- Propodeum :bagian terbesar internal dada, diisi oleh otot-otot yang menggerakkan sayap, kaki, kepala, dan perut di bawah koordinasi sistem syaraf.
Lebah memiliki tiga pasang kaki dan masing-masing kaki terdiri dari enam pasang segmen yang dihubungkan oleh penghubung fleksibel. Pada bagian belakang lebah pekerja tertdapat sebuah kantong pollen yang digunakan untuk mengumpulkan tepung sari bunga (pollen).

Pada lebah ratu dan pekerja terlihat jelas enam segmen perut dan tiga segmen lainnya mengalami degradasi dan perubahan bentuk sehingga tidak dapat dibedakan. Pada lebah jantan terlihat jelas tujuh segmen. Setiap segmen perut terdiri dari dua lembar, yaitu atas dan bawah dimana bagian atas lebih besar dari lembaran bawah.

Sengat lebah madu mirip dengan penyemprot ovum (ovipositor), tapi telah mengalami sedikit modifikasi sehingga cocok untuk menyemprotkan racun lebah.

25 February 2012

HELLO WORLD !!!

Blog ini akan menyajikan fakta-fakta unik di sekitar kita.
thanks!!!
 
Copyright © Nama Blog Anda